Showing posts with label Hadits Sufistik. Show all posts
Showing posts with label Hadits Sufistik. Show all posts

Adab Zakat dan Sedekah


Syeikh Abu Nashr as-Sarraj
Syekh Abu Nashr as-Sarraj r.a   berkata:
“Adab mereka dalam berzakat, maka sesungguhnya Allah tidak mewajibkan kepada mereka zakat, karena Allah telah
menjauhkan mereka dari harta dunia yang harus dibayar zakatnya. ”
Dikisahkan dari Mutharraf bin Abduliah bin asy-Syukhair - rahfmahuliah -yang mengatakan, “Nikmat Allah yang diberikan kepadaku, dengan menjauhkan diriku dari dunia jauh, lebih besar daripada nikmat-Nya yang diberikan kepadaku dengan segaia pemberian-Nya.”
Demikian juga bagi kaum Sufi yang lain, dimana mereka meng anggap, bahwa nikmat Allah yang diberikan kepada mereka dengan menjauhkannya dari dunia merupakan nikmat yang lebih besar daripada nikmat-Nya yang diberikan kepada mereka dengan memberinya dunia meskipun itu dalam jumiah yang sangat besar.

Adab Sang Fakir


Syeikh Abu Nashr as Sarraj
Al-Junaid rahimahullah berkata: "Kefakiran adalah lautan bala' (bencana). Sementara seluruh bencananya adalah kemuliaan." Al-Junaid rahimahullah juga berkata: "Jika ilmu seorang
fakir menguat maka cinta (mahabbah)nya akan melemah. Dan jika ilmunya melemah maka cintanya akan menguat. Sedangkan kebijakan hukum seorang fakir seharusnya ilmunya berada di atas cintanya."

Saya mendengar ad-Duqqi ahimahullah yang saat itu berada di Damaskus, berkata: Saya mendengar Abu Bakar az Zaqqaq rahimahullah di Mesir berkata, "Selama empat puluh tahun saya berteman dengan orang-orang fakir. Saya bergaul dengan mereka, tapi saya tidak pernah melihat satu pemandangan pun yang lebih sejuk dari keadaan mereka yang saling mencintai antara satu dengan yang lain. Maka barangsiapa tidak memiliki taqwa dan wara' (jaga diri dari syubhat) dalam hal ini jelas la akan makan barang yang mesti haram."
Dikisahkan dari Abu Abdillah al Jalla' rahimahullah yang berkata, "Barangsiapa dalam kefakirannya tidak dibarengi dengan wara', tentu la akan makan barang haram murni, sedangkan ia tidak menyadarinya."

Dikisahkan dari Sahl bin Abdullah rahimahullah yang berkata, "Adab seorang fakir yang jujur dalam kefakirannya ada tiga: Tidak meminta di kala la membutuhkan, tidak menolak jika diberi dan tidak menyimpan untuk waktu berikutnya ketika ia mengambil."
Sebagian kaum Sufi berkata, "Adab seorang fakir yang jujur ada tiga: Tidak meminta, tidak membantah dan jika dibantah akan diam."
Dikisahkan dari Sahl bin Abdullah rahimahullah yang berkata, "Seorang fakir memiliki tiga kewajiban: Menjaga rahasia hatinya, menunaikan apa yang diwajibkan kepadanya dan menjaga kefakirannya."

Al-Junaid rahimahullah berkata, "Segala sesuatu akan sanggup dilakukan oleh seorang fakir kecuali kesabarannya atas waktu hingga habis masanya."
Ibrahim al-Khawwash rahmahullah berkata, Ada dua belas sifat yang menjadi ciri seorang fakir (yakni para kaum Sufi), baik ketika sedang di rumah maupun ketika sedang bepergian:
  1. Hendaknya la selalu merasa yakin dan tenang (thuma'ninah) dengan apa yang Allah janjikan;
  2. Hendaknya tidak berharap pada makhluk;
  3. Menyatakan perang dan melawan terhadap setan;
  4. Selalu mendengar perintah Allah;
  5. Memiliki rasa sayang kepada semua makhluk;
  6. Sanggup memikul dan bersabar atas semua tindakan makhluk yang menyakitkan dirinya;
  7. Tidak meninggalkan nasihat untuk semua umat Islam;
  8. Hendaknya selalu berendah hati dalam masalah kebenaran;
  9. Selalu sibuk dalam ma'rifat Allah;
  10. Untuk selamanya dalam kondisi suci;
  11. Kefakirannya hendaknya menjadi modal utama; dan
  12. Selalu rela (ridha) terhadap apa yang datang dari Allah; sedikit atau banyak, disukai atau tidak. Semuanya adalah satu, yakni dari Allah. Mereka harus ridha kepada-Nya, bersyukur dan percaya kepada-Nya.
"Sebagian kaum Sufi berkata, "Barangsiapa meminta kefakiran karena ingin memperoleh pahala kefakiran, maka la akan mati dalam kondisi fakir."

Sebagian kaum Sufi yang lain berkata, "Seorang fakir, apabila banyak akal maka perilaku baiknya akan hilang."
 
Syekh Abu Nashr as-Sarraj rahmatullah berkata:
Di antara adab para fakir Sufi dalam menyikapi apa yang diberikan Allah kepada mereka dengan tanpa terlebih dahulu meminta dan berharap hendaknya tidak mengucapkan, "Ini milikku, dan ini milik Anda." Sementara dalam pembicaraan mereka tidak boleh ada kata-kata, "Aku adalah untuk Anda, sementara Anda bukan untukku. Aku berbuat demikian semoga menjadi demikian. Aku tidak melakukan demikian, semoga demikian."
Dikisahkan dari Ibrahim bin Syaiban rahmahullah yang berkata, "Kami tidak pernah bersahabat dengan orang yang mengatakan, 'Ini adalah sandalku dan tempat minumku'."
Abu Abdillah Ahmad al-Qalanisi dimana la adalah guru al- Junaid berkata, Aku pernah mendatangi sekelompok orang orang fakir di Basrah. Kemudian mereka menghormati dan meng agungkanku. Suatu saat aku pernah mengatakan kepada salah seorang di antara mereka, Dimana sarungku? Maka sejak saat itu aku jatuh dan rendah dalam pandangan mereka."

Abu Ishaq Ibrahim bin al-Muwallad ar-Raqqi berkata, "Saya pernah masuk di Tharasus. Kemudian dikatakan kepadaku, "Di sini ada sekelompok orang dari saudara-saudara Anda yang ber kumpul di suatu rumah. "Kemudian saya masuk menemui mereka, dan saya melihat ada tujuh belas orang fakir yang sehati."
Dikatakan kepada Abu Abdillah Ahmad al-Qalanisi rahima hullah, "Atas dasar apa Anda membangun madzhab Anda?" Kemudian la menjawab, Atas dasar tiga perkara:
  1. Kami tidak pernah menuntut manusia atas hak-hak kami;
  2. Kami menuntut diri kami sendiri untuk menunaikan hak-hak orang lain; dan
  3. Memastikan diri kami berbuat kealpaan terhadap semua yang kami lakukan.
Sebagian kaum Sufi berkata, Kami membangun landasan dasar madzhab kami atas tiga perkara: 
  1. Selalu mengikuti perintah dan menjauhi larangan;
  2. Memeluk erat kefakiran; dan
  3. Belas-kasih pada semua makhluk.
Sementara kaum Sufi yang lain berkata, "Jika Anda melihat seorang fakir telah merosot dari tingkatan hakikat menuju ke tingkatan ilmu (syariat), maka Anda perlu tahu, bahwa ia telah menghapus keinginan kuatnya dan melepas tali pengikatnya." Ibrahim al-Khawwash rahimahullah berkata, "Bukan termasuk adab kaum fakir (kaum Sufi) orang yang masih memiliki sebab (sarana) yang akan dirujuknya kembali ketika la membutuh­kannya, atau memiliki dua tangan untuk melakukan suatu peker jaan tatkala ia menghendaki, atau lisan yang ia jadikan alat meminta tatkala ia lapar, atau keinginan kuat yang la akan pergi kepada orang lain ketika dalam kondisi kesulitan. Dimana semua ini bagi mereka merupakan sarana dan simpanan ketika dalam kondisi krisis dan sarana yang bisa memberi."

Al Junaid rahimahullah berkata, "Jika Anda berjumpa dengan orang fakir maka sambutlah dengan penuh kasih, dan jangan sambut la dengan ilmu. Sebab kelembutan dan kasih sayang akan penghiburnya, sedangkan ilmu akan membuat gelisah."

Sama' (Mendengar lagu dan Syair) II


Dikisahkan, bahwa Nabi Daud as. ketika sedang membaca kitab Zabur, manusia dan jin, burung dan binatang buas selalu menyimaknya. Rasulullah Saw bersabda tentang Abu Musa al-Asy’ary “Dia telah diberi seruling dari seruling Daud.”
Dan Mu’adz berkata kepada Rasulullah Saw, “Bila engkau tahu, engkau mendengar, niscaya aku akan memperindahkannya untukmu dengan perhiasan yang benar-benar indah.”

Abu Bakr Muhammad ad-Dinawary ad-Duqqy mengisahkan: “Aku sedang berada di padang pasir, kebetulan aku berjumpa dengan kabilah Arab. Salah seorang di antara mereka menjamuku. Kulihat di sana ada seorang budak berkulit hitam sedang diikat dan aku juga melihat beberapa unta yang mati di halaman rumah. Budak itu berkata padaku,
“Anda malam ini sebagai tamu. Dan Anda di mata tuanku sungguh mulia. Karena itu tolonglah aku. Dia pasti tidak bisa menolak.”

Maka, kukatakan kepada pemilik rumah,
“Aku tak mau menyantap makananmu, kecuali Anda mau melepaskan ikatan pada budak ini.”
Maka tuan si budak itu menjawab, ‘Si budak ini telah memiskinkan dan menghancurkan hartaku.’ 

Sama' (Mendengar lagu dan Syair) I


Allah Swt berfirman: " Sebab itu sampaikanlah berita-berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik dantaranya." (Q.s.Az-Zumar:7-8).
Huruf alif dan laam pada kata al-Qaul di atas mengandung penger tian umum dan menyeluruh (ta’mim wal  istighraq). Sedangkan dalil di atas menekankan bahwa Allah swt. Memuji kepada mereka karena mengikuti kata-kata paling baik.
Allah swt. berfirman:
"Maka, mereka berada dalam taman surga, senantiasa bergembira." (Q.s. Ar-Ruum:15).

Dalam sebuah tafsir, ditegaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan dalilnya Sama' (mendengarkan dan menyimak).
Ketahuilah, bahwa mendengarkan (Sama') syair dengan nada yang indah, apabila pendengar tidak meyakini, syair tersebut tidak menjurus pada hal-hal yang haram, dan tidak mendengarkan sebagai obyek yang tercela dalam syariat, tidak pula menarik pada emosi hawa nafsu, tidak pula memberi peluang pada nafsunya, maka penyimakan tersebut diperkenankan secara umum.

Adab Dalam Bersahabat



Syeikh Abu Nashr as-Sarraj

Al-Junaid rahimahullah berkata: Dikisahkan dari sekelompok syekh Sufi, dari Ibrahim bin Syaiban - rahimahullah - yang berkata, “Kami tidak pernah bersahabat dengan orang yang mengatakan  ini sandalku dan ini tempat air minumku.” Ada seseorang berkata kepada Sahl bin Abdullah- rahimahullah, “Sesungguhnya aku ingin bersahabat dengan Anda.”
Maka Sahl berkata kepadanya, “Jika salah seorang di antara kita mati maka yang lain akan bersahabat dengan siapa?” Orang tadi menjawab, “Allah!!”
Kemudian Sahl berkata, “Jika demikian, maka bersahabatlah dengan-Nya sejak sekarang.”

Seseorang berkata kepada Dzun-Nun al-Mishri - rahimahullah, “Dengan siapa aku berteman?”
Dzun-Nun menjawab, “Dengan Siapa pun yang apabila Anda sakit Dia menjengukmu, dan ketika Anda berbuat dosa Dia bisa menerima tobatmu.”
Sebagian kaum Sufi berkata, “Semua sahabat, yang Anda ber kata kepadanya, `Tunaikan untuk kami.’ Kemudian la bertanya, `Ke mana?’ Maka ia bukanlah seorang sahabat.”

Dan Dzun-Nun - rahimahullah yang berkata, “Janganlah Anda bersahabat dengan Allah kecuali kecocokan (setuju dengan segala kebijakan-Nya), janganlah Anda bersahabat dengan makh luk kecuali dengan saling memberi nasihat, janganlah Anda ber muamalah dengan nafsu kecuali dengan cara menentangnya, dan jangan pula dengan setan kecuali Anda melawan dan memerangi nya.”

Ahmad bin Yusuf az-Zujaji - Rahimahullah - berkata,
“Dua orang yang bersahabat laksana dua cahaya. Ketika keduanya ber kumpul maka akan melihat apa yang sebelumnya mereka tidak pernah melihatnya.”
Perselisihan adalah pangkal perpecahan. Dan ini adalah godaan setan yang sangat halus dalam usaha memisah persahabatan dua orang yang bersahabat hanya demi Allah.

Abu Said al-Kharraz - Rahimahullah - berkata, “Saya ber sahabat dengan para Sufi selama lima puluh tahun dan tak pernah terjadi perselisihan antara kami dengan mereka.” Kemudian ia ditanya, “Mengapa bisa demikian?” Maka la menjawab, “Sebab aku bersama mereka pada satu jiwa.”

Al Junaid-rahimahullah-berkata, “Sungguh saya ditemani seorang fasik yang berakhlak balk adalah lebih saya senangi dari pada orang yarag pandai membaca al-Qur’an namun jelek akhlak nya.”
Ia juga berkata, “Saya pernah melihat orang botak yang selalu diam dan tak banyak bicara bersama Abu Hafsh an-Naisaburi - rahimahullah. Kemudian saya bertanya kepada teman-temannya, 'Siapa orang ini?’ Mereka menjawab, ‘la adalah orang yang selalu menemani Abu Hafsh dan melayani kami. la telah menginfakkan seratus ribu dirham kepada Abu Hafsh dari kantongnya sendiri, kemudian la berhutang seratus ribu lagi kepada orang lain yang kemudian la infakkan kepadanya. Itu pun Abu Hafsh tidak mem perkenankan la berbicara satu kalimat pun.”

Abu Yazid al-Bisthami - rahimahullah - berkata,
“Saya pernah berteman dengan Al as-Sindi. Saya selalu mengingatkan kewajiban yang la lakukan. Sementara la mengajariku Tauhid secara praktis.”

Abu Utsman berkata, “Aku pernah berteman dengan Abu Hafsh, waktu itu aku masih sangat muda. Kemudian ia meng usirku dan berkata, `Jangan duduk di sisiku.’ Maka aku tidak ingin mengimbangi ucapannya dengan berpaling darinya. Kemudian aku pergi ke belakang sambil berjalan, sementara wajahku tetap
kuhadapkan ke arahnya, sampai aku tidak terlihat lagi olehnya. Aku berniat akan menggali sumur untuk diriku sendiri di depan pintunya. Kemudian aku turun dan duduk di dalamnya kemudian tidak akan keluar lagi dari sumur tersebut kecuali bila diizinkan nya. Ketika la melihat kemauanku tersebut maka la mendekatiku dan menerimaku kemudian aku dijadikan salah seorang sahabat nya yang paling dekat sampai la wafat.”

Saya mendengar Ibnu Salim berkata, “Saya bersahabat dengan Sahl bin Abdullah - rahimahullah - selama enam puluh tahun. Suatu ketika saya pernah bertanya kepadanya, `Saya telah mela- yanimu selama enam puluh tahun, tapi tidak sehari pun engkau pernah memperlihatkan saya orang-orang yang bermaksud datang kepadamu, dimana mereka adalah para wali Allah dan abdal’ Kemudian la menjawab, `Bukankah engkau sendiri yang mem persilakan mereka masuk menemuiku setiap hari? Apakah kema rin engkau tidak pernah melihat seorang yang memakai sarung dan siwak dimana la berbicara denganmu? la adalah termasuk dari mereka’.”

Ibrahim bin Syaiban - rahimahullah - berkata, “Kami me nemani Abu Abdillah al-Maghribi - rahimahullah. Pada saat itu kami masih sangat muda. la bepergian bersama kami melalui da ratan dan gurun pasir. Ia juga ditemani seorang syeikh bernama Hasan, dimana la telah menemaninya selama tujuh puluh tahun. Jika salah seorang di antara kami melakukan kesalahan, dan dirl syeikh terjadi perubahan, maka kami minta bantuan kepada syeikh Hasan ini, sehingga la bisa mengembalikan kami pada kondisi sebelumnya.”

Disebutkan dari Sahl bin Abdullah - rahimahullah - yang suatu ketika la pernah berkata kepada sebagian sahabatnya, “Jika Anda termasuk orang yang takut binatang buas maka janganlah Anda menemaniku.”

Yusuf bin al-Husain ar-Razi berkata: Saya pernah berkata kepada Dzun-Nun al-Mishri, “Siapa yang pantas aku jadikan teman?” la menjawab, “Orang yang Anda tidak pernah menyem-bunyikan darinya sesuatu yang Allah mesti mengetahuinya dari Anda.”
Sementara itu, Ibrahim bin Adham - rahimahullah - jika ia ditemani oleh seseorang, maka la mengajukan tiga syarat:
  1. Per sahabatan adalah suatu pengabdian; 
  2. Memberi tahu kepadanya; dan 
  3. Tangannya dalam segala anugerah dunia yang dibukakan Allah kepadanya hendaknya seperti tangannya sendiri. Kemudian ada seseorang dari sahabatnya berkata, “Aku tidak sanggup melaku kannya.” Maka Ibrahim bin Adham berkata kepada sahabatnya, “Saya kagum terhadap kejujuran Anda.” Dan Ibrahim bin Adham adalah seorang Sufi yang bekerja mengawasi kebun atau ikut me manen hasil pertanian dan kemudian hasilnya la bagikan kepada para sahabatnya.

Abu Bakar al-Kattani - rahimahullah - berkata, “Pernah ada seseorang menemaniku. Padahal dalam hatiku ada beban yang sangat berat. Kemudian suatu ketika aku memberinya pakaian, dengan harapan agar beban berat yang ada dalam hatiku bisa hi lang. Namun tak kunjung hilang. Maka pada suatu hari aku mem bawanya ke rumah atau ke suatu tempat, dan aku katakan padanya, `Letakkan kaki Anda di atas pipiku.’ Namun la tidak mau melaku kannya. Kemudian aku meyakinkannya lagi, Anda harus melaku kan hal itu.’ Akhirnya la mau melakukannya, dan apa yang menjadi beban berat di hatiku akhirnya hilang.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj - rahimahullah - berkata: Kisah ini saya dengar dari ad-Duqqi. Dan dari Syam saya bermaksud pergi ke Hijaz sehingga saya bisa bertanya langsung kepada Abu Bakar al-Kattani tentang kisah ini.

Abu All ar-Ribathi - rahimahullah - berkata:
Aku pernah menemani Abdullah al-Marwazi - rahimahullah. Sebelum aku berteman dengannya, la telah memasuki daerah gurun pasir tanpa membawa bekal apa pun. Ketika saya menemaninya la berkata kepadaku, “Mana yang lebih Anda sukai, Anda yang menjadi seorang pimpinan (amir) ataukah aku?”
Maka aku menjawabnya, “Anda-lah yang jadi pemimpin.”
Maka la berkata, “Jika demikian, maka Anda harus taat.” Aku pun menjawabnya, “Ya!”
Kemudian la mengambil keranjang (tas) dan mengisinya bekal kemudian ia panggul di punggungnya.
Ketika aku berkata padanya, “Berikan barang itu padaku biar aku yang membawanya.”

Maka la berkata sembari bertanya, “Bukankah aku yang men jadi pemimpin? Sehingga Anda harus taat kepadaku.” Kemudian pada suatu malam hujan mengguyur kami hingga pagi hari. Aku duduk di sebelahnya, sementara la berdiri lebih tinggi di atas kepalaku dengan mengenakan pakaian tebal dan berusaha menghalangi air hujan agar tidak membasahiku. Maka aku berkata sendiri dalam hatiku, “Andaikan aku mati dan tidak pernah berkata kepadanya, `Andalah yang menjadi pemimpin.

Kemudian la berkata, “Jika ada orang yang ingin menemani Anda maka temanilah dia sebagaimana Anda melihatku mene mani Anda.”

Sahl bin Abdullah -rahimahullah - berkata, “Hindarilah berteman dengan tiga kelompok manusia: Para penguasa diktator yang lalai, orang-orang pandai membaca al-Qur’an yang suka mencari muka dan para Sufi yang bodoh.”

Inilah cara mereka bersahabat antara satu dengan yang lain dalam makna yang telah kami sebutkan kisah-kisahnya. Semoga yang sedikit ini bisa menjadi cukup bagi mereka yang cerdik dan berakal. Semoga Allah memberi taufik kepada kita.
 

Adab Mencari Ilmu Menurut Kaum Sufi



Syeikh Abu Nashr as-Sarraj

Syeikh ABu Nashr as-Sarraj-Rahimahullah  berkata : Saya mendengar Ahmad bin Ali al Wajihi berkata: Saya mendengar Abu Muhammad al Jariri - rahimahullah - berkata, “Duduk untuk bermudzakaroh (belajar ilmu) akan menutup pintu manfaat, sedangkan duduk untuk saling memberi nasihat akan membuka pintu manfaat.”

Abu Yazid - rahimahullah - berkata, “Barangsiapa tidak bisa mengambil manfaat dari diamnya orang yang berbicara maka ia tidak akan bisa mengambil manfaat dari pembicaraannya.”
Al Junaid - rahimahullah - berkata, “Mereka (kaum Sufi) sangat tidak suka bila lisan melampaui keyakinan hati.”

Disebutkan bahwa Abu Muhammad al Jariri berkata, “Keadilan dan adab ialah hendaknya orang yang mulia tidak membicarakan ilmu ini (tasawuf sehingga Ia ditanya.” Abu Ja’far al-Faraji, sahabat karib Abu Turab an-Nakhsyabi - rahimahullah - berkata, “Aku tinggal diam selama dua puluh tahun tidak bertanya suatu persoalan kecuali bila aku mantapkan terlebih dahulu sebelum aku menyatakan dengan lisanku.”

Abu Hafsh - rahimahullah - berkata, “Tidak dibenarkan berbicara kecuali bagi seseorang yang apabila ia diam malah mendapatkan siksa.”

la juga berkata, ‘Ada seseorang datang pada Abu Abdillah Ahmad bin Yahya al Jalla’ - rahimahullah - yang menanyakan tentang masalah tawakal. Saat itu ada sekelompok orang (jamaah), maka ia tidak menjawabnya dan masuk ke dalam kamarnya, kemudian la keluar lagi dengan membawa seikat kain yang berisi empat dananiq (mata uang) yang diberikan kepada mereka. Kemudian la berkata kepada mereka, `Dengan uang ini silakan kalian membeli sesuatu.’ Kemudian ia baru mau menjawab apa yang ditanyakan orang tersebut. Kemudian ia ditanya, `Mengapa ia melakukan hal itu?’ Maka la menjawab, Aku malu pada Allah untuk menjawab masalah tawakal sedangkan aku masih memiliki empat dananiq’.”

Adab Ketika Sedikit Dunia Terbu


Syeikh Abu Nashr as-SarrajAbu Ya’qub an-Nahrajuri berkata: Saya mendengar Abu Ya’qub as-Susi berkata: Ada seorang fakir datang kepada kami, saat itu kami sedang berada di ar-Rajan. Sementara itu, Sahl bin Abdullah juga berada di sana. Lalu si fakir tersebut berkata pada
kami, “Kalian adalah orang-orang yang biasa memberi bantuan. Saat ini kami sedang ditimpa bencana.” Maka Sahl bin Abdullah berkata, “Dalam daftar bencana telah tercatat sejak Anda memperlihatkan masalah ini. Lalu apa bencana itu?” la menjawab, “Dibukakan pada kami pintu dunia, dan aku gunakan hanya untuk diri sendiri tanpa peduli pada keluarga dekatku. Hingga saya kehilangan iman dan kondisi spiritual.” Sahl berkata kepada Abu Ya’qub, “Bagaimana pendapat Anda tentang hal ini?” Abu Ya’qub menjawab, “Bencana dalam kondisi spiritualnya lebih berat dari pada bencana dalam imannya.” Lalu Sahl berkata, “Orang seperti Anda yang pantas mengatakan ini.”
Dikisahkan dari Khair an-Nassaj -rahimahullah -yang berkata: Aku pernah masuk di sebagian masjid. Ternyata di situ ada seorang fakir yang aku mengenalnya. Ketika melihatku la langsung merangkulku dan menangis sembari berkata, “Wahai syekh kasihanilah aku, karena cobaanku sangat berat!” Lalu aku bertanya, “Wahai fulan, apakah cobaan yang Anda maksudkan?” la tetap berkata, “Wahai syekh, kasihanilah aku, karena cobaanku sangat berat!” Aku pun mengulangi pertanyaan, “Wahai fulan, apakah cobaan yang Anda maksudkan itu?” la menjawab, “Aku telah kehilangan bencana, kemudian setelah itu dibarengi dengan kesehatan (afiat). Sementara engkau tahu, bahwa hal ini adalah cobaanan yang sangat berat.” Khair an-Nassaj berkata: Si fakir itu telah di bukakan sedikit kenikmatan dunia.
Abu Turab an-Nakhsyabi - rahimahullah - berkata, “Jika berbagai kenikmatan telah melimpah pada salah seorang di antara kalian maka hendaknya ia menangisi pada dirinya. Sebab la telah menempuh jalan yang tidak ditempuh orang-orang saleh.”
Saya mendengar al -Wajihi - rahimahullah - berkata: Bunan al-Hammal dibawakan uang sejumlah seribu dinar yang dituangkan di depannya. Kemudian Bunan berkata pada orang yang menuangkan uang tersebut, “Bawalah kembali dan ambillah uang  itu. Demi Allah, andaikan di atas uang tidak ada tulisan nama Allah niscaya sudah aku kencingi. Kemilaunya telah banyak menipuku.”
Al Wajihi berkata: Suatu ketika Bunan al-Hammal diberi kenikmatan duniawi berupa uang empat ratus dinar. Saat itu ia sedang tidur. Mereka meletakkannya di atas kepalanya. Kemudian Bunan mimpi seakan-akan ada orang berkata, “Barang siapa mengambil dunia lebih dari kadar yang secukupnya maka Allah akan membutakan mata hatinya.” Kemudian la terbangun, dan hanya mengambil empat daniq, sementara sisanya ia tinggalkan.
Saya mendengar Ibnu `Ulwan -rahimahullah - berkata: Ada beberapa orang membawakan uang tiga ratus dinar untuk Abu al-husain an-Nuri. Mereka telah menjual barang-barangnya untuk mendapatkan uang tersebut. Setelah menerima uang itu an-Nuri duduk di atas jembatan Sarat sambil melemparkan dinar-dinar tersebut satu demi satu ke dalam air, dan berkata, “Wahai Tuanku, dengan dinar ini Engkau ingin menipuku jauh dari-Mu.”
Dikisahkan dari Ja’far al-Khuldi - rahimahullah - yang berkata: Ibnu Zairi, salah seorang sahabat al-Junaid telah dibukakan sedikit kenikmatan duniawi sehingga la terputus dengan kaum fakir. Suatu ketika la datang kepada kami, sementara di pakaiannya terdapat kantong berisikan dirham yang cukup banyak. Ketika melihat kami dari kejauhan ia, berkata, “Wahai sahabat-sahabat kami, jika kalian sangat bangga dengan kefakiran, sementara kami bangga dengan kekayaan lalu kapan kita bisa bertemu?” Akhirnya ia melemparkan seluruh uang di kantongnya kepada kami.
Abu Said al-A`rabi berkata: Ada seorang pemuda menemani Abu Abdillah Ahmad al-Qalanisi. Kemudian selama beberapa waktu la menghilang dari al-Qalanisi. la kembali dari pengembaraannya setelah terbukakan pintu dunia dan mendapatkan harta. Kemudian kami berkata kepada al-Qalanisi, “Apakah Anda mengizinkan kami untuk datang mengunjunginya?” la menjawab “Tidak, sebab la berteman dengan kita dalam kondisi fakir. Andaikan la tetap pada kondisi semula, seyogyanya kami akan pergi mengunjunginya. Tapi apabila la kembali dari pengembaraannya dalam kondisi seperti ini maka ia yang wajib mengunjungi kami”

Abu Abdillah al-Hushri - rahimahullah - mengisahkan bahwa Abu Hafsh al-Haddad - rahimahullah - tinggal di Ramalah. la membawa dua potong pakaian usang yang di tengah-tangahnya ada uang seribu dinar. la tinggal di sana selama dua, tiga atau empat hari, dimana la tidak mau makan dari uang tersebut. Uang tersebut la berikan pada para fakir sampai habis.
Al-Hushri - rahimahullah - berkata: Di saat-saat krisis pangan kami pernah keluar bersama asy-Syibli mencari sesuatu untuk anak-anaknya. Kemudian kami masuk ke rumah seseorang dan orang itu memberinya sejumlah dirham. Kemudiankami keluar dan di kantongku telah penuh dengan dirham. Setiap berjumpa orang-orang fakir kami berikan uang itu hingga hanya tersisa sedikit. Aku berkata kepada asy-Syibli, “Tuan, anak-anak di rumah sedang kelaparan!” la balik bertanya kepadaku, “Lalu apa yang mesti aku lakukan?” Setelah melalui perjalanan yang melelahkan, baru aku membeli sedikit makanan dengan sisa dirham tersebut dan kuberikan kepada anak-anaknya.
Dikisahkan dari Abu Ja’far ad-Darraj -rahimahullah- yang berkata: Suatu ketika guru aku keluar untuk bersuci. Sementara itu aku mengambil tempat yang la gunakan untuk menyimpan barang-barangnya dan kuperiksa. Ternyata kutemukan loggam perak kira-kira senilai empat dirham. Aku bingung dengan barang ini. Sementara itu dalam beberapa hari aku tidak makan apa-apa. Ketika la pulang aku berkata padanya, “Dalam tempat tuan menyimpan barang-barang, aku temukan logam perak. Sementara pada saat itu aku dalam kondisi kelaparan.” Lalu ia bertanya padaku, “Wah! Anda ambil barang itu? Tolong kembalikan!” kemudian setelah itu la berkata lagi padaku, “Silakan ambil uang itu, dan silakan Anda membelikannya sesuatu!” Kemudian aku bertanya, “Atas Nama Tuhan Yang engkau sembah, ada apakah dengan uang perak itu?” la menjawab, “Allah tidak pernah membe¬riku rezeki sedikit dari dunia, baik logam kuning maupun logam putih selain logam perak tersebut. Aku ingin berwasiat agar logam perak tersebut dikubur bersamaku saat aku mati. Sehingga ketika hari Kiamat tiba aku ingin mengembalikannya pada Allah swt. dan kukatakan, `Wahai Tuhanku, inilah sedikit dunia yang Engkau berikan padaku’.”
Wazir al-Mu’tadh pernah memberi uang kepada Abu al-Husain an-Nuri  -rahimahullah- sehingga ia mau membagikannya kepada kaum Sufi. Kemudian an-Nuri menuangkan uang itu dalam sebuah rumah dan ia kumpulkan para Sufi di Baghdad. la berkata kepada mereka, “Siapa di antara kalian yang memerlukan sesuatu silakan masuk rumah ini dan ambil apa yang la inginkan.” Maka di antara mereka ada yang mengambil seratus dirham, ada yang mengambil lebih banyak, ada yang kurang dari seratus dan ada pula yang tidak mengambil apa-apa. Ketika dirham-dirham itu habis dan tidak tersisa sedikit pun maka an-Nuri berkata kepada mereka, “Jauhnya kalian dari Allah sesuai dengan kadar banyaknya kalian mengambil uang tersebut. Sedangkan dekatnya kalian dengan Allah sesuai dengan kadar kalian meninggalkan uang tersebut.”

Kasih Sayang Pada Fakir Miskin


Ja'far al-Khuldi - rahimahullah - berkata:
Saya mendengar al Junaid -rahimahullah -berkata: Saya mendengar Sari as-Saqathi berkata, “Saya tahu jalan pintas menuju surga: Jangan meminta apa pun pada seseorang, jangan mengambil apa pun dari seseorang, sementara Anda tidak memiliki apa pun yang bisa Anda berikan pada orang lain."
Dikisahkan dari al-Junaid bahwa ia berkata, "Tidak dibenarkan seseorang mengambil sesuatu dari orang lain sehingga la lebih suka mengeluarkan (memberi) daripada mengambil."
Abu Bakar Ahmad bin Hamawaih, sahabat ash-Shubaihi - rahimahullah - berkata, “Barangsiapa mengambil karena Allah maka ia mengambil dengan penuh hormat, dan barangsiapa meninggalkan (tidak mengambil) sesuatu karena Allah maka ia juga mengambil dengan penuh hormat. Dan barangsiapa mengambil bukan karena Allah maka la mengambil dengan hina dan barangsiapa tidak mengambil bukan karena Allah maka dia juga tiak mengambil dengan hina."
Saya mendengar Ahmad bin Ali al-Wajihi berkata: Aku mendengar az-Zaqqaq berkata, "Yusuf ash-Shayigh datang menjemputku di Mesir dengan membawa kantong berisi dirham. Ia ingin memberiku sesuatu. Namun tangannya aku kembalikan ke dadanya. Lalu ia berkata, fAmbillah uang ini dan jangan Anda kembali padaku. Sebab andaikan aku tahu bahwa aku memiliki sesuatu u aku memberi Anda sesuatu tentu aku tidak akan memberikan : pada Anda’."
Saya mendengarAhmad bin Ali berkata: Aku mendengarAbu Ali ar-Rudzabari - rahimahullah - berkata: Aku tidak pernah melihat etika (adab) yang lebih baik dalam memberikan kelembutan dan kasih sayang pada orang-orang fakir daripada adab yang dilakukan Ibnu Rafi' ad-Dimasyqi. Aku melihatnya ketika aku bermalam di rumahnya. Pada malam itu aku bercerita tentang Sahl bin Abdullah yang pernah berkata, "Ciri orang fakir yang jujur adalah tidak meminta, tidak menolak dan tidak menyimpan." Ketika aku mau pergi meninggalkannya, la membawa sejumlah dirham.Ia berdiri di sebelahku mengangkat tempat air. Lalu ia berkata padaku, "Bagaimana Anda bercerita tentang Sahl bin 'Abdullah?" Tatkala aku selesai mengisahkannya dan aku berka kepadanya, "Janganlah Anda meminta dan jangan pula menolak, maka la segera melemparkan dirham-dirham itu ke tempat airku lalu ia pergi meninggalkanku.
Abu Bakar az-Zaqqaq - rahimahullah - berkata,"Kedermawanan bukanlah seorang yang berada memberi pada yang tidak punya, akan tetapi kedermawanan adalah orang yang tidak punya memberi kepada orang yang berada."
Dikisahkan dari Abu Muhammad al-Murta'isy- rahimahullah -yang berkata,"Menurut saya, mengambil tidak bisa dibenarkan sehingga Anda datang kepada orang yang Anda mengambil darinya. Maka Anda mengambil untuknya dan bukan untuk Anda.


Dikisahkan dari Ja'far al-Khuldi dari al Junaid - rahimahullah - yang berkata: Satu hari aku pergi menemui Ibnu al-Kurraini dengan membawa dirham yang ingin aku berikan kepadanya, dengan anggapan la tidak mengenalku. Aku meminta padanya agar la sudi mengambil dirham yang kubawa untuknya. Kemudian la berkata,"Aku tidak membutuhkan dirham." la tidak mau mengambilnya. Lalu aku berkata kepadanya, “Jika engkau tidak membutuhkannya, maka aku adalah seorang muslim yang sangat senang bila engkau mau mengambil pemberianku ini. Maka silakan engkau mengambilnya untuk menyenangkan hatiku.” Akhirnya ia mau mengambilnya.
Disebutkan dari Abu al-Qasim al-Munadi – rahimahullah- bahwa jika la melihat asap mengepul dari sebagian rumah tetangganya, maka ia akan berkata pada orang-orang yang ada disekitarnya, "Pergilah Anda kepada mereka, dan katakan pada mereka, 'Berilah saya bagian dari apa yang engkau masak’!" Ada seseorang di antara mereka yang berkata,"Barangkali mereka hanya memasak air." Maka la berkata, "Berangkatlah kepada mereka, apa yang bisa diandalkan oleh orang-orang kaya itu kecuali memberikan sesuatu pada kita dan mereka meminta syafaat dengan pemberiannya itu di akhirat."
Al Junaid - rahimahullah - berkata: Aku membawa uang dirham kepada Husain bin al-Mishri, dimana istrinya sedang melahirkan. Mereka sedang berada di gurun sahara yang tidak punya tetangga. Namun la tidak mau menerima pemberianku. kemudian dirham itu kuambil kembali dan kulemparkan ke dalam kamar di mana istrinya berada sembari berkata, "Wahai istri Husain ini untukmu!" Akhirnya ia tidak bisa berkutik untuk menolak apa yang aku lakukan.
Yusuf bin al-Husain - rahimahullah - ditanya, "Jika aku mempersaudara seseorang karena Allah, kemudian aku keluar. kepadanya dengan membawa semua hartaku. Lalu apakah aku telah menunaikan semua hak-haknya dari apa yang Allah berikan kepadaku?” Maka la menjawab, "Bagaimana Anda bisa melakukannya dengan rendahnya mengambil dan menemukan kemuliaan memberi bila dalam memberi ada kemuliaan sementara dalam mengambil ada kerendahan?"

Do'a


Allah swt. berfirman:
“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan dalam kerahasiaan.” (Q.s. A-A’raf. 55).
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. “(Q.s. Al-Mu’min: 60).
Rasulullah saw telah bersabda:
“Doa adalah inti ibadat.” (H.r. Tirmidzi, dari Anas bin Malik).
Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq berkata, “Doa adalah kunci bagi setiap kebutuhan. Doa adalah tempat beristirahat bagi mereka yang membutuhkan, tempat berteduh bagi yang terhimpit, kelegaan bagi perindu.”
Allah swt. menghinakan orang yang meninggalkan doa, dengan firman-Nya:
“Mereka menggenggamkan tangannya.” (Q.s. At Taubah: 67).
Ditafsirkan bahwa ayat ini bermakna, “Mereka tidak mengangkat tangan mereka dengan terbuka untuk berdoa kepada Kami.”

Sahl bin Abdullah menuturkan, “Allah swt. menciptakan makhluk dan berfirman, ‘Percayakanlah rahasia-rahasiamu kepada-Ku. Kalau tidak, maka melihatlah kepada-Ku. Kalau tidak, maka dengarkanlah Aku. Kalau tidak, maka menunggulah di depan pintu-Ku. Jika tak satu pun dari ini semua yang engkau lakukan, katakanlah kepada-Ku apa kebutuhan-Mu’.”

Sahl juga berkata, “Doa yang paling dekat untuk dikabulkan adalah doa seketika,” yang maksudnya adalah doa yang terpaksa dipanjatkan oleh seseorang dikarenakan kebutuhannya yang mendesak terhadap apa yang didoakannya.

Ambisi Gila Tahta


 Imam Al-Ghazali
Allah swt. berfirman: “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi.” (Q.s. Al-Qashash: 83).
Rasulullah saw bersabda:
“Cinta harta dan tahta dapat menimbulkan kemunafikan di dalam hati, sebagaimana air dapat menumbuhkan sayur-mayur.”
Sabdanya yang lain, “Serigala yang buas yang dilepas di kandang kambing tidak lebih berbahaya daripada cinta harta dan tahta dalam kehidupan agama seseorang.”
Sabdanya, “Sesungguhnya penghuni surga itu adalah setiap orang yang berambut kusut dan hanya memiliki dua potong baju yang telah lusuh. Apabila mereka mau menemui penguasa, mereka ditolak, dan la meminang wanita, mereka tidak mampu menikahinya, dan bila berkata tidak dihiraukan orang. Kebutuhan salah seorang dari mereka “ adalah gemuruhnya dada, dan andaikata nurnya dibagi-bagikan kepada sesama manusia pada hari Kiamat, tentu akan memadai.”
Sulaiman bin Handzahalah berkata, “Suatu ketika kami berjalan di belakang Ubay bin Ka’ab. Tiba-tiba Umar bin Khaththab melihatnya, lalu memanggilnya seraya menawarkan susu kepadanya.
Ubay bin Ka’ab pun berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, apa yang anda lakukan?’ Umar berkata, ‘Ini (susu) adalah sumber kehinaan bagi yang mengikuti dan menjadi fitnah bagi yang diikuti’.”
‘Al-Hasan berkata, “Sebenarnya suara sandal di belakang seseorang tidak kurang darinya, menunjukkan hati orang-orang sombong.”
‘ Abu Ayub berkata, “Demi Allah, tidaklah seorang hamba itu dibenarkan Allah, kecuali hatinya, bahwa dirinya tidak mengerti kedudukannya.”
Sungguh, betapa tercelanya popularitas dan kedudukan itu, kecuali Allah mempopularitaskan hamba-Nya di bidang agama, tanpa dicari seperti halnya kemasyhuran yang diberikan kepada para Nabi, Khulafaur-Rasyidin, ulama dan wali.

Malunya Kaum 'Arifin

Syeikh Ahmad ar-Rifa’yRasulullah SAW bersabda: “Malu itu sebagian dari iman.” (Hr. Muslim)
Malu yang yang biasanya ter-ekspresi pada wajah manusia merupakan gambaran tentang malu yang ada
dalam hati manusia, yaitu malu karena sesuatu dari Allah Ta’ala.

Sehingga malu ter-ekspresi dari Malu Wajah dan Malu Qalbu, merupakan bagian dari iman kepada Allah Ta’ala, dimana kaum ‘arifin menjadikannya sebagai orientasi atas kelemahan dan cacat rahasia hatinya di hadapan Allah Ta’ala.
Karena itulah qalbu kaum ‘arifin merupakan perbendaharaan Allah Ta’ala di muka bumi, di dalam qalbu itu ada titipan rahasiaNya, kelembutan hikmahNya, kelembutan cintaNya, cahaya-cahaya ilmuNya dan amanah kema’rifatanNya.

Wacana kaum ‘arifin senantiasa muncul dari musyahadah qalbunya, aksentuasi dari pengetahuan rahasia, dan penjelasan mengenai amaliyah batin, berupa penjelasan mengenai pemisahan perkara dengan wushul, penjelasan faktor-faktor yang menganggu hubungan dengan Allah Ta’la, dan faktor-faktor yang yang mendorong menuju Allah Ta’ala.
Faktor pendorong pada kepentingan makhluk (selain Allah) adalah: Dunia, Nafsu dan Makhluk itu sendiri.

Tradisi Ahli Ma'rifat


Diriwayatkan oleh Abu Dzar  Rasulullah Saw bersabda:
“Sungguh aku lebih tahu siapa yang masuk syurga paling akhir, dan siapa ahli neraka yang terakhir keluar dari neraka:
Yaitu seseorang yang pada hari kiamat
besok didatangi, dan dikatakan: “Beberkan padanya dosanya paling kecil dan hapuslah dosa-dosa besar darinya. Kemudian dosa-dosa kecilnya dibeberkan, kemudian dikatakan:
“Anda melakukan perbuatan pada hari ini dan itu, demikian dan demikian, dan anda melakukan dosa itu pada hari ini dan itu, demikian dan demikian?”

Orang tersebut menjawab, “Ya…” Sungguh ia tak bisa memungkiri. Dan Allah Swt sangat kasihan atas banyaknya dosa besar yang dilakukan, manakala dosa-dosa itu dibeberkan padanya. Maka dikatakan padanya, “Maka sesungguh bagi anda adalah setiap tempat keburukan diganti dengan tempat kebaikan.”
Orang itu bermunajat, “Oh Tuhan, aku sungguh telah melakukan berbagai perbuatan sampai aku tak tahu
di sana..!”

Perowi hadits ini berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah Saw, (ketika itu) tertawa, hingga tampak gigi-gigi gerahamnya.”
Kemudian beliau membaca ayat, “Mereka itulah yang Allah gantikan keburukannya (dosa-dosa) dengan kebaikan-kebaikan.”

Rasa kasihan di atas, adalah sesuatu yang merupakan rahasia yaqin kepada Allah Ta’ala, sekaligus merupakan kondisi ruhani dari kekuasanNya yang dilimpahkan pada ahli ma’rifat.
Dalam hadits mulia ini ada perkara agung yang menjelaskan tentang kemurahan Ilahi lebih dari ungkapan yang hanya dikenal kaum ‘arifun, namun membuat kepleset mereka yang alpa, dan membuat tambah takutnya orang-orang yang berselaras dengan Allah Ta’ala.

Orang-Orang Yang Terpilih


Riwayat dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:
Sesungguhnya Allah Ta’a ridlo kepadamu tiga hal; Dia ridlo kepadamu bahwa kamu menyembahNya, dan tidak melakukan kemusyrikan kepadaNya sedikit pun; hendaknya kamu berkait  semua dengan Tali Allah dan tidak terpisah-pisah; dan hendaknya kamu memberikan nasehat kepada orang yang dianggak oleh Allah sebagai pemimpin kamu.

Dan Allah tidak suka kepadamu (tiga hal): Katanya dan katanya; banyak bertanya; dan menelantarkan harta. (Hr Ahmad dalam Musnadnya)

Hadits ini menunjukkan detil-detil aturan Ma’rifat kepada Allah Ta’ala dimana sang arif tak lagi menghindar pada yang lainNya, karena rahasia terliput di dalamnya, yaitu tangga-tangga bagi orang yang dipilihNya dalam rangka menuju kepadaNya.

Sesungguhnya Allah mempunyai para hamba yang dipilih untuk ma’rifat kepadaNya, dan memberikan wilayah istimewa untuk mencintaiNya, dan memilih mereka untuk gabung bersamaNya, dan memuliakan mereka untuk mesra dengan mereka , mendekatkan mereka untuk munajat kepadaNya, membangkitkan mereka untuk dzikir kepadaNya, dan menggerakkan lisan mereka untuk bicara dengan hikmah dariNya, memberikan rasa indah dari piala-piala cintaNya, serta memberikan kemuliaan di atas makhluk-makhlukNya.

Sehingga para hamba itu tidak ingin pindah ke lain hati, tidak ingin menambatkan jaminan kecuali kepadaNya, tidak ingin pula yang lainNya sebagai penolong dan tempat pasrah dirinya. 

Semangat Berserasi Dengan Allah Swt


Rasulullah Saw bersabda:
“Seseorang itu berada dalam lindungan sedekahnya sampai ditunaikan kepada sesama  atau bersabda: “(sehingga) dipastikan bagiannya terhadap sesamanya.” Hal demikian, karena seseorang harus meninggalkan  sedikit apa yang dicintainya bagi Tuhannya. Bagaimana (alangkah bagusnya) seandainya semuanya dikeluarkan?
Allah Swt berfirman kepada Nabi Dawud as, “Berilah kabar gembira kepada para pendosa, bahwa Aku Maha ampun. Dan berilah kabar kepada kaum shiddiqin bahwa sesungguhnya Aku Maha Cemburu.”
Diriwayatkan bahwa Nabi Yusuf as, ketika dilemparkan ke dalam sumur seakan-akan berkata, “Siapa yang bermain-main dalam khidmah pada Tuhannya, maka tempatnya adalah terlempar dalam sumur.”

Ucapan kaum ‘arifin
Ada sejumlah petikan wacana dari kaum sufi, yang membangkitkan semangat mereka yang berserasi dengan Allah Swt, antara lain:
  • Sungguh, bagi orang yang kenal Tuhan, tidak layak mengeluh dari cobaan. Karena setiap orang yang tidak mengenal Tuhan, setiap ucapan adalah pengakuan. Sedangkan bagi orang ‘arif tidak ada lagi pengakuan, dan bagi pecinta tidak ada lagi keluhan.
  • Bila pertolongan Allah mendahuluinya, segala luka nestapa akan roboh karenanya.
  • Bila pertolonganNya tiba, kewalian menjadi keharusan baginya. Karena pertolongan itulah kewalian ada, dan kewalian merobohkan luka duka.
  • Yang urgent bukanlah kewalian, tetapi yang penting adalah pertolongan. Siapa pun tak akan meraih kewalian manakala kehilangan pertolongan.
  • Orang yang teguh adalah orang yang merahasiakan rahasia.
  • Wujud Allah telah membuang wujud makhluk, maka buanglah pengakuan diri, engkau temukan maknanya.
  • Siapa yang batinnya benar, maka seluruh ucapannya manis.
  • Jangan tertipu oleh indahnya waktu, karena di baliknya ada sejumlah bencana.
  • Jangan tertipu oleh indahnya  ibadah, karena di dalamnya ada kealpaan dirimu pada sifat RububiyahNya.
  • Singkirkan dua rumah (dunia dan akhirat) dan berbahagialah dengan Allah Robbul ‘alamin.
  • Mohon petunjuklah kepada Allah, sebab Dia adalah sebaik-baik bukti. Berserahlah kepadaNya, sebab Dia sebaik-baik tempat berserah diri.
  • Sepanjang qalbu hamba bergantung pada selain Allah, maka pintu kebeningan hati tertutup.
  • Kemesraan bersama Allah adalah cahaya yang memancar, dan mesra dan gembira dengan makhluk adalah kesusahan.
  • Sumber rahasia adalah qalbu orang-orang yang abik bersama Allah, sedangkan hati orang yang dekat dengan Allah adalah benteng rahasia-rahasiaNya.
  • Qalbu, ketika gagal diberi cobaan Tuhan ia akan lepas dari wilayah Sang Kekasih.
  • Sebaik-baik rezeki adalah yang sesuai dengan kebutuhan.  Sebaik-baik dzikir adalah yang tersembunyi (dalam hati).
  • Tawakallah, engkau dapatkan kecukupan. Mohonlah, engkau diberi.
  • Bukan orang yang jiwanya cerdas, orang yang membuat pilihan, tetapi tidak menurut pilihan Sang Kekasih.
  • Menurut apa yang yang berarti bagimu, engkau raih cita-citamu.
  • Sang hamba, jika  Allah membencinya, para makhluk akan membencinya. Jika Allah meridloi-nya, selain Allah akan meridloinya.
  • Permintaan maaf pecinta pada Sang Kekasih adalah kebajikan. Sedangkan perbuatan dosa pecinta pada Kekasihnya adalah terampuni.
  • Siapa yang berhasrat menuju Tuhan, berarti menghamparkan diri untuk cobaan.[pagebreak]

Seseorang Beserta Orang Yang Dicintai


Seseorang bersama “Seseorang beserta orang yang dicintai.”
Riwayat dari Abu Musa ra, mengatakan:
Seorang lelaki datang kepada Nabi saw, lalu bertanya: “Wahai Rasulullah, seseorang mencintai suatu kaum dan ia tak pernah berjumpa dengan mereka…”

Rasulullah saw, bersabda:
Hadits mulia ini  berniscaya bagi kita untuk mencintai  kaum  ahli ma'rifat (arifin), sekaligus menjadi berita gembira bahwa kita bersama mereka, manakala cinta kita benar. Bukankan agama itu tidak lain adalah cinta dalam Allah dan benci karena Allah? Maka diantara rahasia cinta sejati adalah sang arif diangkat ke wilayah maqom Sirr dan Keagungan ketika berdialog pada selain Dia.

Anak-anak sekalian! Ketahuilah bahwa Allah Yang Maha mengenal terhadap rahasia-rahasia para penempuh, Yang Melihat hasrat kaum arifin, memberikan tugas kepada mereka agar selaras dalam ‘ubudiyah, lalu mewujudkannya dengan prasyarat-prasyaratnya, agar tidak melampaui batas kehambaannya, jangan sampai memasuki batas Rububiyah.

Jangan sampai melampaui batas kefakiran melewati batas Kemahacukupan Allah Ta'ala.

Allah swt berfirman:
“Wahai manusia, kalian semua adalah fakir (butuh) kepada Allah, dan Allah adalah Maha Kaya dan Maha Terpuji.”

Segala sesuatu ini ada sebab, dan sebab bagi jalan keluar adalah ubudiyah yang benar. Allah swt berfirman:
“Siapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberi jalan keluar”.

Pohon Ma’rifat


Syeikh Ahmad ar-Rifa’yRasulullah Saw bersabda:
“Aku datangi pintu surga di hari qiyamat, lalu  aku dibukakan. Maka sang penjaga syurga bertanya, “Siapa anda?”
Aku katakan, “Muhammad,”. Lalu dia berkata, “Demi dirimulah aku diperintahkan agar tidak membuka (pintu syurga) bagi siapa pun sebelum dirimu…”

Ahlul Ilmi Billah (para Ulama Billah) telah mengetahui bahwa syurga adalah pintu kebajikan Ilahi yang abadi. Tidak akan dibuka kecuali dibuka oleh Kanjeng Nabi Muhammad saw,  dan dialah sang pembuka bagi kebaikan dunia dan akhirat. Mengetahui akan perilakunya merupakan rahasia pengetahuan pada Allah Ta’ala. Siapa yang ingin dibukakan pintu-pintu kebaikan dunia dan akhirat, ia harus menggantung pada nya. Karena disana tersembunyi rahasia ma’rifat.

Hakikat ilmu ma’rifat
Ilmu ma’rifat adalah ilmu tentang Allah Ta’ala. Yaitu Cahaya dari Cahaya-cahaya Yang Maha Agung, dan perilaku dari berbagai perilaku utama.

Dengan pengetahuan ma’rifat itu Allah memuliakan hati para cendekiawan, kemudian Allah merias dengan keindahanNya yang bajik, dan keagunganNya.
Dengan ma’rifat pula, Allah mengistemewakan ahli kewalian dan pecintaNya.

Dengan ma’rifat Allah memuliakannya di atas seluruh ilmu mana pun. Manusia, mayoritas alpa atas kemuliaan ma’rifat, bodoh atas kelembutan-kelembutan ma’rifat, lupa atas keagungan getarannya, apalagi mereka  juga lupa atas makna-makna terdalamnya, yang tak akan ditemui kecuali oleh orang yang memiliki hati yang berserasi denganNya.
Ilmu ma’rifat ini merupakan asas, dasar, dimana seluruh ilmu pengetahuan dibangun. Dengannya pula kebajikan dua rumah dunia dan akhirat tergapai, kemuliaan terengkuh.

Sungguh Mengherankan!


Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
Riwayat dari Umar bin Khotob ra, aku mendengar Rasullulah mengatakan:
“Sesungguhnya amal-amal itu bergantung dengan niat-niatnya, dan sesungguhnya setiap orang tergantung apa yang diniatkan. Maka siapa yang hijarhnya kepada Allah dan rasulNya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasulNya.
Dan barang siapa yang hijrahnya kepada dunia akan mendapatkan dunia, atau kepada perempuan, akan mengawininya. Maka hijrahnya tergantung apa yang doiorientasikannya.” (Hr. Bukhori, Muslim dan Nasa’y dan yang lain)

Hati kaum arifin senantiasa menuju Rabbul ‘alamin.
Raihlah tujuan perjalanan akhir tanpa hambatan,
Hanya menuju dan bagi Allah, janganlah ke lain Allah
Setiap apa yang kau harapkan
Teguh dengan hijrah kepada Allah

Riwayat Anas bin Malik ra, berkata: Bahwa dibawah dinding dimana allah  swt memberi khabar melalui firmanNya,
“Dan di bawahnya ada perbendaharaan bagi keduanya…”, adalah lembaran dari emas. Dan emas itu ada tulisan di dalamnya , “Bismillahirrohmaanirrohim.

Aku heran kepada orang yang yang meyakini kematian, bagaimana ia bisa gembira? Aku heran pada orang yang meyakini takdir, bagaimana ia susah? Aku heran kepada orang yang meyakini adanya neraka, bagaimana ia bisa tertawa? Aku heran dengan orang yang meyakini sirnanya dunia dan penghuninya akan tertbalik, bagaimana ia merasa tenteram di dunia? Laa Ilaaha Illallah Muhammadur Rasulullah.”

Jejak Ma'rifat


Riwayat dari Hudzaifah ra, berkata. Rasulullah saw, bersabda:
“Ikutilah jejak orang-orang setelahku dari para sahabatku: Abu Bakr dan Umar dan mintalah petunjuk pada Ammar, dan berpegang teguhlah pada
janji Ibnu Mas'ud.” (Hr. Tirmidzi dan al-Hakim.)

Rasulullah saw, telah memerintahkan agar mengikuti jejak dua tokoh besar, Sayyidina Abu Bakr as-Shiddiq dan Sayyidina Umar bin Khothob ra, serta  mencari kebenaran dan petunjuk dari Ammar ra, karena ia meninggal dengan cintanya yang agung pada kerabatnya, Sayyidina Ali KW.

Rasul saw, juga menegaskan agar tetap kokoh dengan janji, sebagaimana Ibnu Ummi Abd ra, memegangnya. Dalam hal inilah tumbuh hikmah terpadu antara cinta sahabat dan keluarga Nabi. Rahasia yang dijumpai dalam diri para ‘arifun yang berselaras. Dan Nabi saw, menjadikan kebenaran mengikuti jejaknya dengan cara mengikuti jejak dua tokoh besar semoga Allah meridhoi keduanya, dan mengintegrasikan dua kekuatan dengan memegang teguh janji.

Apabila seorang hamba mengikuti jejaknya maka ia akan dapat petunjuk. Dan siapa yang mendapatkan petunjuk berarti telah memegang teguh janjinya Allah swt. Disinilah dimengerti bahwa kema’rifatan itu tidak lain adalah dengan cara demikian? Siapa yang meraih petunjuk melalui petunjuk Nabi Muhammad saw, dan mengikuti jejaknya, berpegang teguh dengan janjinya, maka ia telah menghadap Allah Ta’ala dan mengesampingkan yang lainnya.

Derajat Arifin


Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
Riwayat dari Irman bin Hashin, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw, bersabda:
“Dari ummatku bakal masuk syurga tujuh puluh ribu orang tanpa hisab.” Mereka bertanya, “Siapakah mereka itu wahai
Rasulullah?” Rasulullah saw, bersabda, “Mereka itu adalah orang yang tidak pernah melakukan ruqyah, tidak pernah meramal, tidak pernah berbekam, dan mereka senantiasa tawakkal kepada Allah.” (Hr. Muslim)

Rasulullah saw, memposisikan “ramalan” di urutan kedua, setelah berupaya untuk tidak berobat yang merupakan derajat murni sejati, yang tergolong ahli fana’, dan mereka senantiasa dalam Kehendak Allah swt.

Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada mereka.  Namun betapa sedikit jumlah mereka dalam setiap periode.  Karena derajat mereka adalah mewujudkan hakikat tawakkal kepada Allah swt. Kepasrahan total yang meliputi seluruh instrument sebab akibat dan kehendak. Merekalah kaum ‘Arifin Billah yang sesungguhnya, semoga Allah meridloi mereka.
Amboi, jika orang ‘Alim itu terbagi dua:
1.) Satu golongan yang membuatku terbebas dari keraguan.
2.) Satu golongan  yang menggunting-gunting diriku dari gunting neraka. Tak lebih dan tak kurang mereka itu, dimataku.

Anak-anak sekalian…Ketahuilah orang ‘arif kepada Allah swt dengan ma’rifat yang benar, senantiasa terhanguskan hasratnya di bawah keceriaan dalam WahdaniyahNya. Dan tak ada keceriaan mulai dari Arasy sampai muka bumi yang lebih besar ketibang kegembiraan ma’rifat kepada Allah swt.

Pendidikan Ilahi


Riwayat dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karromallahu Wajhah, dari Rasulullah saw, bersabda:
“Tuhanku mendidikku, dan Dia mendidik adabku dengan baik.”
Hadits mulia ini melazimkan perwujudan hakikat dengan
mengikuti jejak Adab Nabi saw. Barangsiapa yang tergelincir dari adab tersebut akan terjerumus dalam hawa nafsunya. Siapa yang berpisah dengan adab tersebut ia tersesat dan menyimpang. Maka dengan adab itulah kaum muqorrobun menanjakkan hasratnya, rahasia-rahasia kaum arifin memancar. Dan tidak ada arah benar dalam jalan ma’rifat Billah kecuali mengikuti jejak adab Nabi Muhammad saw. Sedangkan semua tangganya adalah: Dzikir yang terus
menerus.Anak-anaku, ingatlah kepada Allah Ta’ala, karena Allah Ta’ala adalah puncak derajat dzikir. Allah mengagungkan derajat itu, dan meninggikan perkara, kemuliaan dan karunianya. Kemudian dzikir terbagi dalam bentuk lisan, rukun dan hakikatnya.
Bagi sang pendzikir hendaknya :
• Tidak terfokus pada dzikirnya,
• Memiliki himmah (cita) dan      kehendak yang mulia,
• Mempunyai kecerdasan lembut dalam isyarat,
• Niat dan kehendaknya benar (Lillahi Ta’ala)
• Dalam berdzikir tidak bertujuan lain selain Allah Ta’ala.
•Dan tidak menempuh jalan lain selain menuju kepadaNya. Karena wushul secara total itu di bawah RidloNya, bukan yang lainNya. Sedangkan terhalang total itu semata karena sibuk pada yang lainNya