Showing posts with label Other. Show all posts
Showing posts with label Other. Show all posts

12 NEGARA YANG MENJADI PUSAT PENGEMBANGAN THORIQOT-THORIQOT ISLAM

12 NEGARA YANG MENJADI PUSAT PENGEMBANGAN THORIQOT-THORIQOT ISLAM
1 . NEGARA YUNNAN
2 . NEGARA MESIR
3 . NEGARA ALJAZAIR
4 . NEGARA LIBYA
5 . NEGARA MAROKKO
6 . NEGARA TURKI
7 . NEGARA ARAB SAUDI
8 . NEGARA IRAK
9 . NEGARA IRAN
10. NEGARA SYURIYAH
11. NEGARA INDIA
12. NEGARA INDONESIA

URUTAN NAMA2 THORIQOT/PENDIRI DAN TEMPAT

1 . AD-HAAMIYYAH IBROHIM BIN ADHAM DAMASKUS SYURIYAH
2 . AHMADIYYAH MIRZA GULAM AHMAD QHODIYAN INDIA
3 . 'ALAWIYYAH ABU ABBAS AHMAD BIN MUSTA'NIM ALJAZAIR
MUSHTHOFA AL ALAWY
4 . 'ALWAANIYYAH SYAIKH ALWAN JEDDAH SAUDI ARABIA
5 . 'AMAARIYYAH AMMAR BUSINA KONSTANTINA ALJAZAIR
6 . ASYSYAAQIYYAH HASANUDDIN ISTANBUL TURKI
7 . ASYROOFIYYAH ASYROF RUMI KHIN IZNIK TURKI
8 . BAHAAIYYAH ABDUL GHONI ADRIANOPEL NIDZINI TURKI
9 . BAHROOMIYYAH HAJJI BAHROMI ANKARA TURKI
10. BAKRIYYAH ABU BAKAR WAFA'I ALEPPO SYURIYAH
11. BIKTASYI BIKTASYI FILI KIRSHIR TURKI
12. BISTAAMIYYAH ABU YAZID ALBISTAMI JABAL BISTAM IRAN
13. GHULSYANIYYAH IBROHIM GHULSYANI KAIRO MESIR
14. HADDAADIYYAH SAYYID ABDULLOH BIN HIJAZ ARAB SAUDI
'ALAWY BIN MUH.ALHADDAD 
15. IDRIISIYYAH SAYYID AHMAD BIN IDRIS 'ASHIR ARAB SAUDI
BIN MUHAMMAD BIN ALI 
16. IGHTIBAASIYYAH SYAMSUDDIN MAGHSIYAH YUNANI
17. JALWAATIYYAH FIER UFTADY BURSA TURKI
18. JAMAALIYYAH JAMLUDDIN ISTANBUL TURKI
19. KUBROOWIYYAH NAJMUDDIN KHUROSAN IRAN
20. QODIRIYYAH ABDUL QODIR AL JAILANI BAGHDAD IRAK
21. KHOLWAATIYYAH UMAR AL KHOLWATY KASYIRI TURKI
22. MAULAWIYYAH JALALUDDIN RUMI KUNYA ANATHOLIA
23. MUROODIYYAH MUROD SYAMI ISTANBUL TURKI
24. NAQSYABANDIYYAH MUHAMMAD BIN QOSRI ARIFAN TURKI
MUHAMMAD AL UWAISI AL BUKHORI NAQSYABANDI
25. NIYAAZIYYAH MUHAMMAD NIYAZ LIMNUS YUNANI
26. NI'MATULLOH SYAH WALI NI'MATULLOH KIRMAN IRAN
27. NUR BASYIYYAH MUHAMMAD NURBAH KUROSAN IRAN
28. NURUDDINIYYAH NURUDDIN ISTANBUL TURKI
29. RIFAA'IYYAH SAYYID AHMAD AR RIFA'I BAGHDAD IRAK
30. SA'DIYYAH SA'ADUDDIN JIBAWI DAMASKUS SYURIYAH
31. SAFAAWIYYAH SAIFUDDIN ARDABIL IRAN
32. SANUSIYYAH SIDI MUHAMMAD BIN 'ALI TRIPOLI LIBYA
AS SANUSI
33. SAQOOTHIYYAH SIRRI SAQOTHI BAGHDAD IRAK
34. SHIDDIQIYYAH KY.MUCHTAR MU'THI JOMBANG INDONESIA
35. SANAN UMMIYYAH ALIM SINAN UMMI AL WALI TURKI
36. SUHROWARDIYYAH ABU NAJIB SUHROWARDI dan BAGHDAD IRAK
SYIHABUDDIN ABU HAFSHIN UMAR
BIN ABDULLOH SUHROWARDI
37. SUNBULIYYAH SUNBUL YUSUF BULAWY ISTANBUL TURKI
38. SYAMSIYYAH SYAMSUDDIN MADINAH ARAB SAUDI
39. SYATTAARIYYAH ABDULLOH SYATTAR SYAHTOR INDIA
40. SYAADZILIYYAH ABU HASAN 'ALI ASY SYADZALI MEKKAH ARAB SAUDI
41. TIJAANIYYAH ABUL ABBAS AHMAD BIN FEZ MAROKKO
MUHAMMAD TIJANI
42. UM SUNANIYYAH SYAIKH UM SUNAN ISTANBUL TURKI
43. WAHAABIYYAH MUHAMMAD BIN ABDUL ARAB SAUDI
WAHAB NEJED 
44. ZAINIYYAH ZAINUDDIN KUFAH IRAK

Manakib Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi


Status sebagai anak yatim tidak berpengaruh kepada terhadap diri beliau, karena ibunya dengan penuh kesabaran mendidiknya dan tidak menikah lagi. Di tambah lagi asuhan dan perhatian dari para pamannya, terutama Al-Habib Sholeh bin Muhammad Al-Habsyi yang menjadi munshib Al-Habsyi di negerinya, beliau dibesarkan dalam didikan pamannya ini sehingga mengikuti jalan dan perilakunya.
Sebelum genap berusia tujuh tahun, beliau telah mulai mempelajari Al-Qur’an kepada mu’allim Ali Syuwa’i pada tempat pengajian umum di Hauthah. Kemudian beliau menghatamkannya pada Syaikh Ahmad Al-Baiti, munsyid di kubah datuknya, sayyidina Ahmad bin Zain Al-Habsyi. Dalam perjalanan menuntut ilmunya beliau mengerahkan seluruh segala kemampuannya untuk belajar baik ketika masih di Hauthah maupun di berbagai tempat lain di Hadramaut. Disebagian tempat beliau menetap dalam waktu lama dan di sebagian yang lain beliau hanya tinggal beberapa saat. Al-Ghorfah, Sewun, Tarim, Syibam dan Du’an adalah sebagian diantara kota-kota yang didatanginya.

Habib Umar bin Hafiz, Ulama Habaib Terkenal Masa Kini


Beliau ialah Habib Umar putera dari Muhammad putera dari Salim putera dari Hafiz putera dari Abdullah putera dari Abi Bakr putera dari Aidarus putera dari Hussein putera dari Syeikh Abi Bakr putera dari Salim putera dari Abdullah putera dari Abdul Rahman putera dari Abdullah putera dari Syeikh Abdul Rahman al-Saqqaf putera dari Muhammad Maula al-Dawilah putera dari Ali putera dari Alawi putera dari al-Faqih al-Muqaddam Muhammad putera dari Ali putera dari Muhammad Shahib Mirbat putera dari Ali Khali Qasam putera dari Alawi putera dari Muhammad putera dari Alawi putera dari Ubaidillah putera dari Imam al-Muhajir Ahmad putera dari Isa putera dari Muhammad putera dari Ali al-Uraidi putera dari Ja'far al-Sadiq putera dari Muhammad al-Baqir putera dari Ali Zainal Abidin putera dari Hussein sang cucu lelaki, putera dari pasangan Ali putera dari Abu Talib dan Fatimah az-Zahra puteri dari Rasul Muhammad s.a.w..

Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa

Habib Munzir bin Fuad Al-Musawa


Beliau adalah Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin ‘Ali bin ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin ‘Aqil bin Ahmad bin ‘Abdurrahman bin Umar bin ‘Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad al-Musawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abu Bakar as-Sakran bin ‘Abdurrahman as-Saqqaf bin Muhammad Maula Dawilah bin ‘Ali bin ‘Alwi al-Ghayur bin Muhammad Faqih al-Muqaddam bin ‘Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin ‘Ali Khali' Qasam bin ‘Alwi bin Muhammad bin ‘Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin ‘Isa ar-Rumi bin Muhammad an-Naqib bin ‘Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal Abidin bin Husein cucu kesayangan Rasulullah, anak kepada Sayyidatina Fathimah - puteri kesayangan Rasulullah - dan Sayyidina‘Ali bin Abu Tholib r.a

Hierarki Kewalian



Syaikhul Akbar Ibnu Araby dalam kitab Futuhatul Makkiyah membuat klasifikasi tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara
garis besar dapat diringkas sebagai berikut :
  1. Wali Aqthab atau Wali Quthub
    Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan. 
  2. Wali Aimmah
    Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bernama Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bernama Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat. 
  3. Wali Autad
    Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kakbah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Haiyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdu Murid. 
  4. Wali Abdal
    Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab Futuhatul Makkiyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu, mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
    Pada tahun 586 di Spanyol, Ibnu Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Abdul Madjid bin Salamah sahabat Ibnu Arabi pernah bertemu Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian. 
  5. Wali Nuqoba’
    Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak. 
  6. Wali Nujaba’
    Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa. 
  7. Wali Hawariyyun
    Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair bin Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah. 
  8. Wali Rajabiyyun
    Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.

    Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.

    Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang. 
  9. Wali Khatam
    Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd,saw.

Teknologi terbaik masa depan

Teknologi terbaik masa depan

mobil masa depan
Dari mobil terbang hingga mesin waktu
MOBIL terbang, mesin waktu, atau transportasi cukup melewati portal. Barangkali teknologi ini sudah sering Anda saksikan di film-film bergenre science fiction (scifi).
Namun, justru nuansa fiksi di film-film itu yang diramalkan bakal menjadi teknologi masa depan yang paling lambat mulai dipakai 50 tahun mendatang. Cnet, pekan ini, melansir 10 teknologi yang sedang dalam proses pengembangan dan sebentar lagi akan diluncurkan ke publik.
Inilah ke-10 teknologi yang diperkirakan akan menjadi tren di masa depan:
Mobil Terbang
Selama ini, Hollywood sudah menggambarkan kemajuan itu misalnya mobil terbang yang bisa kita lihat lewat film Back to the Future II. Jika Anda pernah menyaksikannya film ini menggambarkan tahun 2015, di mana sebuah skateboard terbang dan tak perlu menggunakan roda. Skenario ini kemudian dibawa ke dunia nyata oleh sebuah perusahaan bernama Moller International. Perusahaan ini tengah membangun kendaraan yang disebut SkyCar, yang mampu terbang dan mendarat dengan sistem personal vertical takeoff and landing (VTOL).
Uni-energy
Teknologi lain yang dilirik adalah energi daur ulang. Ini disebut juga uni-energy yang berarti penggunaan energi yang 100 persen bersih dan dapat diterapkan dalam semua jenis kendaraan, alat rumah tangga, dan mesin.
Coba tebak? Seluruh energi itu kini sudah ada dan kini tengah dikembangkan seperti angin, air terjun, matahari dan semua materi yang menyimpan energi.

Hukum ASI yang Tertelan Suami


Wednesday, 24/12/2008 09:40 WIB
Assalamu’alaikum wr. wb
Pak ustadz, saya menikah sudah 5 th dan di karuniai 2 anak, ketika istri sedang masa menyusui pernah kami melakukan hubungan suami istri dan ketika sedang berhubungan itu tanpa sengaja asi istri tertelan oleh saya. Dikarenakan kurang pahamnya saya tentang hal tersebut maka kejadian itu saya anggap hal yang biasa. Tetapi kemarin, saya mendengar ceramah yang menyebutkan bahwa asi istri adalah haram.
Pertanyaannya
1. Benarkah asi istri kita haram hukumnya?
2. Bagaimana dengan status pernikahan kami setelah kejadian tersebut karena kami belum tahu hukum tentang asi?
3 Bagaiman solusi atas kejadian tersebut?
Terima kasih untuk jawaban ustadz, wasalam.
hamba allah

Jawaban

Waalaikumussalam Wr Wb
Memang terkadang muncul keraguan di sebagian suami tentang air susu istri yang tertelan suami saat berhubungan, apakah ia sama hukumnya dengan air susu ibu yang diminum oleh seorang anak susuannya?!
Sesungguhnya persyaratan susuan yang menjadikannya orang yang menyusu itu anak dari ibu susuannya adalah sebagai berikut :

Yesus Hanya Perantara Doa Nasrani

Pertanyaan
Assalamualaikum Wr Wb..
Saudara saya Katolik bilang bahwa mereka juga mengakui 1 tuhan Allah dan menganggap kalau Yesus itu hanya perantara doa saja seperti halnya nabi Muhammad dalam Islam. Sehingga mereka menganggap agama Islam dan Katolik itu sama-sama menyembah Allah. Bagaimana pendapat ustadz?
Terima kasih, wasalamualaikum wr wb
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Saudara Anda yang Katholik itu termasuk bagian dari berjuta umat Kristiani yang bingung dan tidak bisa memastikan tentang siapa tuhan mereka. Hal itu sudah berlangsung lebihdari 2000 tahun.
Mereka didera perbedaan pendapat yang amat tajam tentang apa dan bagaimana konsep tentang ketuhanan. Sejak agama ini diboyong ke Eropa, begitu banyak paham theologi Barat yang paganis dimasukkan ke dalamnya. Maka tiap gereja punya konsep theologi sendiri-sendiri, satu dengan yang lain tidak pernah sama.
Jadi apa yang saudara anda katakan itu tidak bisa dijadikan standar bahwa seluruh umat Kristiani beraqidah seperti itu. Tergantung dari sekte dan alirannya. Dan jumlahnya bisa mencapai ribuan bahkan ratusan ribu kalau dihitung sejak awal sejarah Masehi.

Hukum Mengucapkan Selamat Natal

Pertanyaan
Assalamualaikum. Wr. Wb.
Pak ustadz saya mau tanya, saya pernah membaca sebuah artikel tentang haramnya hukum mengatakan “Selamat Natal” kepada umat kristiani. Karena dijelaskan di situ bahwa kalau kita mengucapkan itu kita mengakui akan adanya trinitas dan sebagainya,
Bagaimana menurut pandangan pak Ustadz
Terima kasih
prof
Jawaban
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ucapan selamat natal oleh banyak kalangan memang diharamkan, bahkan sampai ada yang mengirim SMS kepada kami dengan kalimat pembuka: INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI RAJIUN: saya denger dari Elshintasi fulantelah mengucapkan ucapan selamat natal…


Hadits tentang Pakaian Warna Kuning

Jumat, 19/12/2008 09:57 WIB
Assalamu’alaikum
Ustadz, sebelumnya jazakallah atas jawaban atas pertanyaan saya yang lalu, saya membaca beberapa hadits dalam buku terjemahan Subulus Salam jilid II yang menyatakan bahwa Rosulullah Saw. melarang kita umat Islam untuk mencelup kain dengan warna kuning, bagaimana maksudnya, mohon penjelasannya ? atas segera jawaban Ustadz saya ucapkan Jazakallah Khoiron Katsiro
Wassalamu’alaikum
Abu Zakia

Jawaban

Walaikumussalam Wr Wb
Dari Ibnu Umar ra bahwasanya Rasulullah saw pernah ditanya,”Pakaian apa yang dikenakan saat orang berihram? Beliau saw menjawab,”Janganlah engkau memakai baju, sorban, celana, baju panjang, terompah kecuali bagi seseorang yang tidak mendapati sandal maka pakailah terompah itu dengan dipotong bagian atas dari mata kakinya. Dan janganlah engkau mengenakan kain yang sedikitpun terkena kunyit (warna kuning).” (Muttafaq alaih, sedangkan lafazhnya dari Muslim)

Ampuhnya Doa Sapu Jagad


Banyak mungkin yang belum tahu bahwa do’a sapu jagad (Robbana aatina fid dunya hasanah …) mengandung makna yang luar biasa. Sampai-sampai dijelaskan bahwa do’a sapu jagad ini juga adalah do’a untuk mendapatkan wanita sholihah yang setiap orang menginginkannya. Coba kita renungkan baik-baik dalam artikel singkat berikut ini. Hanya Allah yang beri taufik.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Sangat Menyukai Do’a yang Singkat Namun Penuh Makna
Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata,
Ùƒَانَ رَسُولُ اللَّÙ‡ِ صَÙ„َّÙ‰ اللَّÙ‡ُ عَÙ„َÙŠْÙ‡ِ ÙˆَسَÙ„َّÙ…َ ÙŠَسْتَØ­ِبُّ الْجَÙˆَامِعَ Ù…ِÙ†ْ الدُّعَاءِ ÙˆَÙŠَدَعُ Ù…َا سِÙˆَÙ‰ ذَÙ„ِÙƒَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyukai doa-doa yang singkat padat, dan meninggalkan selain itu.” (HR. Abu Daud no. 1482, dikatakan shahih oleh Syaikh Al Albani)

Syaikh Ibnu Utsaimin di Mata Sang Istri

Segala puji bagi Allah dan shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad, keluarganya, para shahabat yang mulia, dan orang-orang yang mengikuti mereka hingga hari kiamat.
Berikut ini adalah hasil wawancara dengan Ummu ‘Abdullah, istri Syaikh kita, Muhammad bin Saleh al-’Utsaimin (rahimahullah). Wawancara itu dilakukan oleh saudari Maha binti Husain Ash-Shammari dan dimuat dalam Majalah “Al-Mutamayyizah”, Riyadh, KSA, Edisi No. 45, Ramadhan 1427H.
1. Apakah ada perubahan motivasi Syaikh dalam hal menuntut ilmu, berdakwah, dan beribadah saat beliau masih muda dan setelah tua?
Jawaban : Saya tidak menemukan penurunan dan pelemahan motivasinya dalam menuntut ilmu, berdakwah, dan beribadah meskipun usianya semakin lanjut. Sebaliknya, dia sibuk meningkatkan jadwalnya, seperti saat beliau sakit tetap bersemangat beribadah, beliau tidak lalai di saat apapun, beliau mengisi setiap detik waktunya dengan mengingat Allah, beribadah kepada Allah, mengajar, dan mengarahkan.

Rajin Puasa Biar Cepat Kaya?


Saat istirahat, usai sholat Jum’at.
“ Kamu tidak makan Mad?” tanya seorang rekan kerja Ahmad, sambil mengambil jatah makan siang yang sudah siap sejak sebelum sholat Jum’at.
“ Saya puasa Mas “ jawab Ahmad singkat.
“ Kok hari Jum’at kamu puasa. Kan nggak boleh puasa khusus hari Jum’at
“ Saya tidak puasa khusus hari Jum’at, Mas. Kemarin saya puasa, dan insya Allah besok juga puasa. Mulai hari ini saya puasa sunah pertengahan bulan Safar, tanggal 13, 14 dan insya Allah sampai tanggal 15 nanti “ Ahmad coba menjelaskan mengenai puasanya hari ini agar rekan kerjanya tidak salah paham, apalagi menganggapnya ‘linglung’ seperti bulan kemarin yang menyangka bahwa Ahmad salah mengira hari dan menghitung tanggal, padahal kala itu Ahmad yang rajin puasa sunah Senin – Kamis bukan salah mengira hari atau tanggal, tapi Ahmad memulai puasa pertengahan bulan yang kebetulan jatuh pada hari Rabu, tanggal 30 Desember.
“ Wah, puasa terus bisa cepet kaya dong !”
“ Maksudnya ?” tanya Ahmad tak mengerti
Rekan kerja Ahmad menghentikan makan siangnya sesaat.

Hakikat Kiai Kampung
 Oleh Abdurrahman Wahid

GUNTUR Romli, salah seorang kalangan muda NU yang menyatukan pemikiran-pemikirannya tentang berbagai masalah, dan salah seorang pimpinan Jaringan Islam Liberal (JIL), menyatakan bahwa ‘kiai kampung’ mendukung penulis dalam sikap-sikap politiknya.
Sayangnya, beberapa hal tidak dikemukakannya secara terbuka. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengemukakan hal-hal itu secara terbuka dan diharapkan dengan itu pengertian orang banyak tentang kiai kampung akan menjadi lebih jelas. Diperlukan adanya kejelasan dalam hal ini, karena peranan kiai kampung dalam Pemilu 2009 akan menjadi sangat besar.
Kalau KPU/KPUD dapat dibenahi dan menjaga kebersihan dirinya, kiai kampung dapat terdorong untuk ‘mengarahkan’ para pemilih kepada pihak PKB. Bahkan, ada kemungkinan PKB menjadi partai terbesar dalam pemilu tersebut. Karena itu, keberadaan kiai kampung menjadi sangat penting dalam kehidupan politik yang sedang dibangun bangsa ini. Istilah ‘kiai kampung’ adalah kata yang digunakan penulis untuk menunjuk salah satu dari dua macam kiai yang ada dalam masyarakat kita, selain ada kiai sepuh dan sebangsanya, yaitu mereka yang menjadi pengasuh pesantren- pesantren besar seperti Lirboyo, Langitan, Tebuireng, dan sebagainya.
Mereka menjadi pihak yang tidak lagi mampu berkomunikasi langsung dengan rakyat,karena para pengasuhnya adalah kiai-kiai yang bergaul -dalam bahasa pesantren ‘disowani’, oleh kiai-kiai yang ‘kelasnya’ ada di bawah mereka. Jadi, mereka tidak lagi berhubungan langsung dengan rakyat, tetapi dengan para penghubung. Yang menyekat hubungan langsung dengan para penganut itu, dapat saja berupa kiai-kiai pondok pesantren yang kecil, para pejabat pemerintahan ataupun pihak-pihak lain yang berkepentingan dengan peranan mereka.Bahkan,banyak juga kiai sesepuh yang ‘berkenalan’ dengan uang, kekuasaan dan jabatan.
Banyak juga di antara kiai kampung itu yang dihadapkan kepada ‘keharusan’ menghadapi penilaian-penilaian oleh kiai sesepuh tentang keadaan yang dihadapi. Tetapi mereka juga harus mendengarkan pendapat orang-orang pinggiran, rakyat kecil, maupun pihak-pihak lain yang tidak masuk ke lingkaran kekuasaan. Nah,dalam suasana adanya keadaan-keadaan yang saling bertentangan itu,kiai kampung harus lebih sering mendengar pendapat mereka yang berada di luar lingkar kekuasaan itu. Sudah tentu ini merupakan pola hubungan timbal balik yang sehat antara para kiai kampung itu dan rakyat yang mereka pimpin.
Pola komunikasi antara kedua belah pihak itu tentu saja dapat dibalik, yaitu sangat besarnya pengaruh dari orang-orang masyarakat itu dan kiai kampung. Karena itu, dapatlah dipertanggungjawabkan anggapan bahwa kiai kampung lebih mengerti keadaan dan perasaan rakyat kecil. Apa yang dikemukakan di atas, sebenarnya adalah proses pendangkalan pemahaman agama, akibat berkembang masyarakat secara horizontal. Dahulu, para kiai utama (seperti halnya KH M. Hasyim As’yari dari Tebuireng, Jombang) masih dapat meluangkan waktu untuk mendengarkan warga masyarakat yang berbagai-bagai itu, karena mereka berada di luar lingkaran kekuasaan pemerintah. Sebagai hasil, komunikasi antara mereka dan rakyat kecil tetap terpelihara dengan baik.
Tetapi sekarang, kiai-kiai utama itu harus menghabiskan waktu untuk berhubungan dengan orang-orang pemerintahan maupun elite kekuasaan.Ini berarti lebih kecil peluang untuk berkomunikasi dengan orang-orang biasa. Kalau masalah ini saja sudah membuat jarak komunikasi antara kiai dan rakyat kecil, dapat dibayangkan bagaimana komunikasi dapat berjalan lancar antara rakyat kecil dan para kiai yang menjadi besan ataupun berkeluarga dengan elite politik dalam masyarakat.
Dari keseluruhan uraian di atas, dapat dibayangkan bagaimana besarnya pengaruh perubahan sosial dari perkembangan yang terjadi dalam hidup bermasyarakat. Hal-hal seperti inilah yang sering luput dari perhatian kita. Belum lagi berbagai perubahan sosial yang terjadi sebagai akibat dari perjumpaan antara elite politik dan para kiai sesepuh membawa akibat-akibat yang tidak terduga sebelumnya.
Dilihat dari sudut pandangan ini,sebenarnya ilmu-ilmu sosial tertinggal dari perkembangan keadaan dalam masyarakat luas. Ini antara lain dapat dilihat pada penggunaan bahasa dalam masyarakat kita. Walaupun bunyinya sama, ada perbedaan besar dalam penggunaan bahasa yang sama itu oleh berbagai kelompok.
Kalangan mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan para intelektual menggunakan bahasa yang tidak sama dengan kelompok lain.Kaum birokrat umumnya menggunakan bahasa semu (euphimisme), seperti kata diamankan untuk menyatakan ditangkap. Rakyat kecil, dengan demikian mendapati bahwa mereka berada di luar lingkaran kekuasaan dalam segala hal, termasuk dalam komunikasi. Karena itulah, mereka mengembangkan dua hal sekaligus. Di satu pihak, mereka melakukan komunikasi intern dengan bahasa sendiri.
Bahasa itu tidak sedikit mempunyai konotasi serius. Umpamanya saja,mereka menggunakan kata bonek (bondo nekat) untuk membuat euphimisme mereka sendiri atas keadaan yang terjadi. Di sisi lain, mereka kembangkan sikap seolah-olah tidak peduli kepada perubahan yang terjadi, dan dengan demikian mengembangkan apa yang oleh mantan Presiden Amerika Serikat, mendiang Richard Nixon disebut sebagai ”mayoritas membisu”(silent majority). Dari sinilah, kita lalu dipaksa menerima kebisuan sebagai alat komunikasi.Hal-hal seperti di atas menunjukkan kita harus mampu memahami hakikat segala permasalahan, termasuk pemunculan kiai kampung.

My Islam, Your Islam, Our Islam, Their Islam
By KH Abdurrahman Wahid
] Abdurahman Wahid
As may be obvious to readers of this forum, a wide variety of opinions exists as to the nature and teachings of Islam, even among those widely regarded as experts. Rather than view Islam and its teachings as a single monolithic entity, it is more accurate to recognize and acknowledge the de facto plurality of opinions that have always existed as to what Islam is, and what it “compels” you, me or us to do.
The personal experiences of any one human being can never be exactly identical with those of anyone else. These experiences invariably color the understanding and perceptions of those who have them, within the context of their respective religious traditions. I myself have undergone a continual process of transformation regarding my personal understanding of Islam from the time of earliest childhood until today. From this I conclude that the Islam which I conceive and experience is unique to me, and may rightly be termed, “My Islam.” The character of My Islam is the outgrowth of my cumulative personal experience, which it may be appropriate to share, but never to force upon others. Should I try to force my personal understanding of Islam and its teachings upon others, the result will inevitably be a serious “dislocation” for those so affected, annihilating the perceived beauty and joy of their own respective opinions.
A vast diversity of opinions about Islam are held by my fellow Muslims, which they are free, in turn, to share with me. I may or may not agree with them, but the result of such interaction invariably becomes another element of my own personal understanding and experience, and of theirs. For example, those wishing to “purify” Islam from so-called bid’a, or innovation, may reject the use of a drum to issue the call to prayer, reverence of saints, or even the use of a rosary while reciting the names of God. Thus we may refer to others’ personal experience and understanding of Islam as “Your Islam,” and go through life adopting or politely refusing to adopt any given element thereof.
Muslims refer to this process of mutual visitation, sharing and growth by its Arabic term, silaturrahim, which means “to relate in an attitude of mutual affection.” Such sharing of views may or may not produce what we might call “Our Islam,” dependent on the respective understanding and experiences of those involved, but at least it fosters mutual respect and tolerance of differences.
Unfortunately, the Muslim world today is afflicted by a crisis in which the tradition of silaturrahim is being replaced by attempts to force one’s own views of Islam onto others. For me personally, “Their Islam” is a fair term to describe the views of those who would annihilate the great beauty and diversity of traditional Islam in the name of an artificial and enforced conformity to their own rigid opinions. For such people, Our Islam is a misnomer, for in fact they seek to enforce – through intimidation and violence – a colorless, monolithic uniformity that does not and has never existed in the long history of Islam.
The desire for Our Islam appears to be inherent in the nature of most Muslims. Yet the only realistic way to establish such a phenomenon is for My Islam and Your Islam to peacefully coexist in mutual respect and toleration, without trying to annihilate our differences. Rather than seek to repress or destroy the nearly infinite, beautiful variety of God’s creation, we would be better advised to pursue al-jihad al-akbar and annihilate our own egos, so that we may unite in a common spiritual apprehension of the One – which gives rise to inner peace and a joyful tolerance of differences here on earth.However, those who care about the future of Our Islam on this earthly plane would be well advised to unite in rejecting the use of Islam as an ideology, or a weapon to violate the sanctity of Your Islam and mine.


Lain NU, Lain PKB
Oleh: Abdurrahman Wahid
Ada pemimpin Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), menyatakan bahwa ia tidak bersedia menjadi pengurus sekarang, karena kepengurusan PKB ada non-muslimnya. Ini adalah pernyataan yang aneh, karena itu beberapa alasan akan diuraikan di bawah ini. Padahal ia sudah bertahun-tahun menjadi pengurus PKB, dan sejak berdiri PKB senantiasa berisi orang-orang non-muslim sebagai pengurus, disamping kaum muslimin yang bukan warga Nahdlatul Ulama (NU). Bukankah itu berarti sekian tahun itu ia menipu diri sendiri? Mengapakah ia tidak langsung saj berterus terang menolak hasil Muktamar II di Semarang baru-baru ini? Dalam pandangan penulis, penipuan kepada diri sendiri itu tidak lebih hanyalah sebuah alasan untuk menolak kehadiran ‘orang lain’ dalam PKB. Karena itu, memang lebih baik ia tidak berada dalam lingkungan pengurus partai, karena yang diperlukan adalah mereka yang jujur dalam kepengurusan.
Sebenarnya, memang ada perbedaan mendasar antara NU dan PKB. Ini dapat dilihat dalam 2 hal, yaitu masa lampau NU dan masa depan PKB. NU didirikan tahun 1926, tetapi sebenarnya ia bermula dari langkah yang diambil oleh Sultan Hadiwijaya dari Kerajaan Demak. Di saat itu, ia dikalahkan dalam perang tanding melawan Sutawijaya, yang belakangan menggunakan gelar Panembahan Senopati Ing Ngalaga Sayidin Panatagama Kalipatullah Ing Tanah Jawi, dan menjadi pendiri Dinasti Mataram. Ketika kalah dalam perang tanding tersebut, Hadiwijaya lari ke Sumenep untuk meminta pertolongan ibunya, Kanjeng Ratu Putri di Astana Tenggi . Wanita ningrat yag juga menjadi pembawa tarekat qadiriyah ke Pulau Madura itu memberinya 40 macam kesaktian/ kanuragan kepadanya.
Dalam perjalanan pulang ke Pajang, Sultan Hadiwijaya singgah di pulau Pringgoboyo (sebelah selatan Paciran di Lamongan) di sana ia bermimpi didatangi oleh gurunya, yang menyatakan tidak ada gunanya ia kembali ke Pajang untuk memperebutkan tahta kerajaan, karena ia akan tetap kalah melawan Sutawijaya. Ia menurut perintah gurunya, dan tinggal di Pringgoboyo itu kemudian membuka sebuah pondok pesantren. Maka bermulalah sebuah tradisi baru {pondok pesantren} yang menjadi alternatif tardisi kraton besar di pusat kerajaan. Pondok pesantren merupakan kekuatan tersendiri, yang melaksaakan sistem nilai baru (kesantrian) sebagai sesuatu yang memiliki kemampuan seimbang dengan kraton.
Fungsi seharusnya diteruskan oleh NU, yang merupakan kekuatan alternatif bagi kekuatan pemerintahan pusat di Jakarta . Karena itulah dapat dimengerti jika kepemimpinan dalam NU hanya terdiri dari orang-orang NU. Dalam hal itu, pemimpin-pemimpin NU menjadi alternatif bagi kepemimpinan nasional, yang hanya dapat “dipatahkan” oleh Soeharto-Ali Murtopo melalui tindakan “penyederhanaan partai politik”. NU lalu menjadi bagian dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Maka bermulalah masa transisi/perpindahan dari parpol golongan menjadi parpol nasional.
****
Perjalanan sejarah inilah yang seharusnya disadari oleh tokoh tersebut. Tapi ternyata ia tidak menyadarinya sama sekali. Karena itu, ia berkeras untuk membuat kepemimpinan dalam PKB hanya dipegang oleh orang-orang NU saja. Padahal sejarah telah menunjukkan dengan jelas, bahwa sikap seperti ini tidak dapat terus menerus dipertahankan, tanpa mengorbankan cita-cita NU sendiri.
Sejak lahirnya, PKB memiliki “jiwa” yang berbeda dari NU. Karena di masa depan, peranan politik di kalangan parpol akan bersifat nasional. Parpol akan menjembatani gerakan mahasiswa, lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan sebagian kaum intelektual. Di sisi lain, ada Tentara Nasional Indonesia (TNI) juga akan berfungsi politik, walaupun resminya bukan. Parpol harus menjadi jembatan yang menghubungkan antara keduanya. Karena itu, parpol harus bersifat nasional, dan tidak terlalu mementingkan kepentingan kelompok. Berdsarkan hal itu penulis menginginkan PKB mencapai lingkup nasional dengan sendirinya. Penulis harus mengusahakan agar PKB diminati oleh kelompok-kelompok non-muslim dan kelompok-kelompok muslim non-NU. Itulah sebabnya mengapa penulis berusaha memasukan kawan-kawan non-muslim & non- NU ke dalam kepengurusan PKB.
Inilah yang penulis namakan “masa depan PKB”. Tanpa mengerti hal ini, berarti kita tidak memahami masa depan dunia politik kita. Kalau hal ini tetap terjadi, NU akan tetap menjadi subordinat dari kehidupan nasional kita, bukannya menjadi koordinat. Kalau memang NU benar-benar besar, ia harus mau berbagi tempat. Dengan demikian akan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar, yaitu dunia politik nasional kita. Ketidakmampuan memahami hal ini, akibat sikap “menjaga kemurnian”, akan membuat kita tetap terpecah-pecah dalam lingkup kesantrian, seperti terjadi dalam PPP terdahulu. Bagaimana klaim bahwa umat Islam merupakan kelompok terbesar dalam kehidupan nasional kita, sedangkan dalam kenyataan kita hanya berpikir tentang kepentingan kelompok saja.
Nyatalah dengan demikian, bahwa memang ada pergeseran besar. Kalau disadari dahulu NU mewakili kepentingan kaum santri yang bersifat sempit, dan membuatnya tidak berpartisipasi dalam kehidupan bangsa secara riil. Akibat pola lama yang berwatak kepentingan golongan yang selalu diusahakan agar ditentukan oleh NU. Maka sekarang justru PKB lah yang harus merambah pola kehidupan baru itu. Tetapi kepentingan nasional menghendaki kesediaan untuk memelihara peranan dalam kehidupan sebagai bangsa, dan dalam kenyataan bangsa kita memang terdiri dari bermacam-macam golongan. Dalam mengelola kehidupan sebuah parpol, hal ini memang harus selalu disadari dan dijadikan kebijakan/policy dasar. Bersama-sama dengan kemampuan melakukan pensejahteraan kehidupan, penegakan kebebasan, pemeliharaan kedaulatan hukum dan penyelenggaraan kehidupan saling berbeda.
Jelaslah di sini, bahwa NU memang berbeda dari PKB. Perbedaan kesejarahan masa lampau dan masa depan memang harus selalu diperhitungkan, kalau kita memang ingin dewasa. Betapapun “murni” dan “indah” keinginan untuk tidak memberikan tempat kepada pihak-pihak lain dalam PKB, jelas akan merugikan masa depan PKB sendiri. Mereka yang “bermimpi” seperti itu, haruslah menyadari bahwa PKB bukanlah parpol yang sesuai dengan keinginannya itu sendiri. Mereka bermimpi dengan sesuatu yang melayani kepentingan kelompok saja, bukannya kepentingan bangsa secara keseluruhan. Sudah tentu, bagi orang-orang yang seperti penulis, hal itu adalah tragedi yang harus dihindari. Di masa lampau, kebesaran NU terletak dalam kemampuan “menjaga kemurnian” NU sendiri. Tetapi di masa yang akan datang hal itu ada dalam kemampuan hidup bersama-sama dengan orang lain. 
Dengan memahami perbedaan masa lampau dari masa depan, kita akan memperoleh daya gerak untuk mempertahankan daya gerak itu sendiri. Ini berlaku untuk semua pihak, dan selalu berulang kali terjadi kalau diperhatikan dengan teliti. Maka hanya pihak yang bersedia melakukan penyesuaian/adaptasi masa dahulu kepada masa depan saja yang akan mampu bertahan dalam kebesaran masa lampau. Inilah yang sebenarnya merupakan kemampuan melanggengkan dan menghilangkan apa yang kita kehendaki, sebagai bagian dari proses yang lumrah terjadi dalam sejarah manusia, bukan?

Contoh Sabar ala Gus Dur
Dalam Risalah Qusyairiyah, sabar dibagi dalam beberapa hal: sabar terhadap apa yang diupayakan, dan sabar terhadap apa yang tanpa diupayakan. Mengenai sabar dengan upaya, terbagi menjadi dua: sabar dalam menjalankan perintah Allah, dan sabar dalam menjauhi larangan-Nya. Adapun mengenai sabar terhadap hal-hal yang tidak melalui upaya dari si hamba, maka kesabarannya terletak dalam menjalani ketentuan Allah yang menimbulkan kesukaran baginya.
Dalam ruang inilah, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menambatkan makna kesabaran. Bagi beliau, sabar, jika menurut tasawuf yang benar, terkait dengan ikhlas. Sehingga orang yang sabar, ya orang yang ikhlas menerima pepesten (kepastian) Tuhan. Intinya disini. Jadi orang yang penerimaan terhadap kepastian Tuhan goyang, maka sabarnya juga goyang. Ini semua berangkat dari kesadaran bahwa kekuasaan berada di tangan Allah, sehingga kesabaran, berarti keikhlasan menerima kuasa-Nya.

Menurut Gus Dur, "Tasawuf dari dulu sampai hari ini, selalu bergulat dalam besaran-besaran antara kekuatan manusia dan kekuatan Tuhan. Nah kekuatan Tuhan itu mutlak. Itulah ukuran segalanya. Jadi kekuatan manusia diukur dari sini. Lha ini yang namanya sabar. Sabar untuk mengikuti aturan Tuhan. Seperti dijelaskan dalam Ihya' 'Ulumuddin karya Imam al-Ghazali."

Lalu bagaimana indikasinya? Indikasinya adalah, ketika manusia tunduk kepada motivasi agama daripada motivasi ego. Tetapi memang sangat sulit menerapkannya dalam kenyataan. Karena apa yang kita katakan sebagai motivasi agama ternyata motivasi ego. Ini yang bikin ruwet.

Permasalahannya, dalam ruang batin kita ada dua sisi yang saling bergulat. Yakni kesadaran bahwa manusia musti sabar terhadap ketentuan dan kekuasaan Allah, dengan potensi kemerdekaan manusia sendiri. Celah ini yang menurut Gus Dur, hendak ditutup oleh tasawuf. Itu yang membuat kalau tidak bisa sabar sekaligus, ya latihan, melalui wiridan, dsb. Sampai pada satu titik, ketika kondisi spiritual (hal) telah permanen, untuk menaungi segenap resiko kesabaran.

"Saya sendiri pernah menjadi Ihkwanul Muslimin di Jombang.  Berarti ini Islam sebagai alternatif tho. Tapi belakangan saya meyakini bahwa Islam sebagai komplemen. Jadi sabarnya saya, ketika menyadari bahwa Islam itu komplemen (penyempurna). Ini semua lahir dari keyakinan bahwa Tuhan Maha Tinggi."

Apa kaitannya dengan sabar? Dalam kaitan ini, al-Hujwiri mengatakan, "Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia Ada. Apa yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya. Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir," tutur Gus Dur untuk menjelaskan makna batiniyah dari posisi Islam yang tidak dijadikan sebagai alternatif.

"Artinya, kesabaran bagi seorang mu'min, ternyata ada pada kerendahatian untuk tidak berhasrat  "membela Islam", karena kebesaran Tuhan telah ada (qadim), jauh sebelum dan tanpa usaha (yang ternyata terselipi nafsu) manusia untuk menjadi "tentara Allah" yang mengharamkan tata dunia bentukan kesepakatan hidup. Ternyata, dibutuhkan kesabaran untuk menjadi hamba Tuhan, tanpa klaim sebagai hamba yang "paling bertuhan".

Kepergian Setelah Mengabdi
Oleh: Abdurrahman Wahid
Seorang lagi dari deretan tokoh-tokoh kita telah meninggalkan lingkungan, setelah lama menderita sakit: Dr. Nurcholish Madjid.
 Banyak sekali orang yang merasa kehilangan dengan kepergiannya pada usia 66 tahun itu. Padahal, itu adalah usia yang mencerminkan kematangan hidup, terlebih-lebih pada masa penuh kesalahpahaman dan salah pengertian satu sama lain, terkadang ”diwarnai” oleh ledakan bom dan lemparan granat.
 Ada perbedaan faham yang fundamental antarsesama warga gerakan Islam dan hampir selalu berakhir pada hilangnya toleransi dalam kehidupan kita sebagai bangsa.
Nurcholish Madjid atau Cak Nur tetap konsisten dengan gaya hidupnya di tengah-tengah masyarakat. Ia tetap mempergunakan cara-cara menolak pemakaian kekerasan. Ia dimaki-maki oleh begitu banyak orang, sehingga sangat lucu melihat bagaimana ia dimaki-maki dan diumpat-umpat untuk berbagai ”dosa” yang tidak pernah dilakukannya. Bahkan, setelah ia meninggal pun, masih ada orang yang menganggapnya ia melakukan hal-hal yang tidak pernah dikerjakannya selama hidup.
Cercaan dan umpatan seperti itu sudah menjadi hal yang biasa di telinganya sewaktu ia hidup. Bahkan, setelah meninggal, masih ada yang—karena kekerdilan jiwa—mengatakan secara lisan bahwa ia ”seharusnya sudah bertobat”. Padahal, yang seharusnya melakukan hal itu bukanlah Cak Nur, melainkan orang itu sendiri.
Bukankah kitab suci Al Quran memuat salah satu sifat yang mulia adalah kemampuan memberikan maaf kepada siapa pun untuk kesalahan apa pun. Di sinilah terletak kebesaran Cak Nur. Ia berhasil mendidik kaum Muslimin pada umumnya bahwa sifat yang seperti itulah yang harus dikembangkan terus dalam kehidupan mereka.
Apakah artinya ini? Artinya, bahwa kita semua harus mengikuti teladan yang diperlihatkannya itu. Bahwa hampir seluruh kaum Muslimin di negeri ini bersikap demikian, itu adalah bukti bahwa Cak Nur telah berhasil dengan pendidikannya itu. Ia yang lahir di Desa Mojoduwur, Kecamatan Bareng, di Jombang, Jawa Timur, itu akhirnya menjadi contoh bagi semua warga bangsa yang berjumlah lebih dari 210 juta jiwa itu (menurut hitungan Prof Dr Prijono Tjiptoherijanto)
Kita belum lagi berbicara tentang Islam sebagai bidang kajian, tempat Cak Nur menghabiskan umur. Sebagai ilmuwan, ia tidak mau berkompromi dengan politik sama sekali. Orang boleh berbicara di sinilah terletak kekuatan Cak Nur, atau sebaliknya menganggap itulah titik lemahnya.
Bagi penulis, hal itu tidak penting benar karena ia tidak menjadi besar atau kecil dalam hal ini. Ia akan tetap diakui sebagai salah satu pemegang otoritas studi keislaman (Islamic studies) di negeri kita.
Tentu saja ia punya sederet kesalahan karena ia adalah seorang anak manusia, tetapi kesalahan-kesalahan itu tidaklah memudarkan namanya (atau menurunkan nilai dirinya).
Ia adalah orang besar, karena ia memang demikian. Kini ia telah tiada, dan menjadi kewajiban kita untuk mengembangkan Nurcholish-Nurcholish baru. Hanya dengan cara demikian kita patut disebut pengikut Cak Nur di masa hidupnya.

Akan Pecahkah NU?
Oleh: Abdurrahman Wahid

Muktamar ke 31 di Asarama Haji Donohudan (Boyolali) ternyata membawa hasil yang dapat dikatakan mendua. Di satu sisi, ada harapan (dan tentu saja ada ketakutan) NU tidak terpecah belah. Di pihak lain, ada keinginan agar NU membenahi diri karena Muktamar ke-31 itu ternyata ‘dikuasai’ oleh para pengurus ‘jorok’. Tentu saja kejorokan itu sudah dimulai, sejak beberapa tahun yang lalu yaitu ketika Hasyim Muzadi “menyeret” NU struktural ke kancah politik praktis. Maksud yaitu bukannya pencalonan Hasyim Muzadi sebagai Wakil Presiden RI mendampingi Megawati Soekarnoputri yang menjadi Calon Presiden waktu itu. Tetapi dalam cara bagaimana Hasyim Muzadi ‘memaksakan’ agar seluruh jajaran NU mendukung kemenangan pasangan calon itu dengan menggunakan ‘kekuasaan organisatoris’ sebagai Ketua Umum Pengurus Besar NU (Ketum PBNU). Ia melanggar semua aturan permainan yang sudah ditetapkan oleh berbagai forum NU sejak dahulu yaitu sebagai organisasi, NU tidak berpolitik.

Blog Entry
MauliD DilaranG, KitA JangaN Pak3 Celan@
Mantan Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengatakan, perayaan maulid Nabi Muhammad Saw yang lumrah diselenggarakan umat Islam di berbagai penjuru dunia, sebetulnya tidak pernah ada masa Nabi Muhammad Saw sendiri.
Sultan Shalahuddin al-Ayyubi, kata Gus Dur, adalah muslim pertama yang menyelenggarakan maulid nabi. Tujuannya, adalah untuk menyemangati kaum muslimin yang tengah berperang melawan pasukan Kristen dalam Perang Salib.
“Jadi maulid nabi itu tidak ada pada zaman Nabi Muhammad Saw”.
Demikian dikatakan Ketua Dewan Syura DPP PKB itu saat menjadi narasumber pada acara Kongkow Bareng Gus Dur, di Green Radio, Jl Utan Kayu No. 68 H Jakarta, Sabtu (15/03/2008) pagi.
Gus Dur mengecam kelompok tertentu yang menganggap perayaan maulid nabi sebagai bid’ah atau sesuatu yang terlarang dilaksanakan dalam agama Islam. “Kalau ada yang mengharamkan maulid, ya sama saja memaki-maki Shalahuddin al-Ayyubi. Ya, silahkan saja,” kata Gus Dur ringan.
Dia lantas menanyakan, apakah secara otomatis apapun yang tidak berasal dari Nabi Muhammad Saw itu tidak boleh dilakukan?
“Kalau begitu, kita jangan pakai celana. Pada zaman Nabi Muhammad Saw, celana itu nggak ada kok. Sepatu dan sepeda juga nggak ada,” ujarnya. “Masak sih naik sepeda aja bid’ah?,” imbuhnya heran.
“Kalau begitu, apa batasan budaya dan agama?” tanya seorang pendengar.
Dalam jawabannya, Gus Dur menyatakan, agama itu bersifat mengikat kita karena menyangkut keyakinan kita sebagai pemeluknya, yaitu keyakinan terkait adanya Tuhan Yang Maha Esa dan Nabi Muhammad Saw sebagai pesuruh-Nya. Sedang budaya, ujarnya, itu buatan manusia sendiri.
“Saya pakai celana, ini kan budaya saja, bukan agama,” katanya.
“Di daerah saya, ada nonmuslim yang meninggal. Tapi sebelumnya ia minta ditahlili. Bagaimana menurut Gus Dur?” tanya pendengar yang lain.
Menurut Gus Dur, mendoakan nonmuslim yang telah meninggal tidak masalah sama sekali dan karenanya tidak perlu diributkan. “Itu hanya didoakan tho? Ya boleh saja,” jawabnya.