Showing posts with label Hikmah Sufi. Show all posts
Showing posts with label Hikmah Sufi. Show all posts

Nasehat Syeikh Bahauddin an-Naqsyabandy



  1. Mengamalkan tareqat berarti berkekalan di dalam melaksanakan ‘ubudiyyah kepada Allah, secara zahir dan batin, dengan kesempurnaan komitmen (iltizam) mengikuti as-Sunnah, dan menjauhkan segala bid’ah dan segala kelonggaran (rukhsah), pada setiap gerak dan diam.
  2. Jalan kita ialah dengan menuruti jejak langkah baginda Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat. Aku telah dibawakan ke jalan ini melalui Pintu Kurnia, karena dari permulaan jalan hingga ke akhirnya, tiada yang aku lihat melainkan pengaruniaan-pengaruniaan dari Allah.
  3. Di dalam tarekat ini, pintu-pintu kepada ilmu-ilmu langit akan dibukakan kepada as-Salikin yang teguh menuruti jejak langkah Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam. Mengikuti as-Asunnah adalah cara yang paling utama untuk membuka pintu-pintu ini.
  4. Orang-orang ahli hikmah mempunyai tiga cara untuk mencapai Kebenaran (al-haqiqah), iaitu melalui muraqabah, musyahadah dan muhasabah.Muraqabah itu ialah tidak melihat makhluk karena seseorang itu senantiasa sibuk melihat Sang Pencipta makhluk. Maksud musyahadah ialah memandang kecemerlangan nur yang diterima di dalam hati. Dan maksud muhasabah ialah tidak mengizinkan segala ahwal yang telah diperoleh, menjadi batu penghalang bagi mencapai maqam-maqam yang lebih tinggi.
  5. Para ahlullah itu tidak pernah merasa kagum dengan amalan-amalan mereka. Mereka sentiasa beramal demi cinta kepadaNya.
  6. Siapa yang mengambil daripada tangan kami, dan menuruti jejak langkah kami, dan mencintai kami, apakah dia itu dekat ataupun jauh, berada di Timur atau di Barat, maka akan kami minumkan dia dari Sungai Kecintaan, dan akan kami berikan dia cahaya pada setiap hari.
  7. Jalan kita ialah melalui pergaulan yang baik. Mengutamakan diri bisa mengakibatkan seseorang itu menjadi masyhur dan ini ada bahaya. Kebaikan terletak di dalam bersahabat. Siapa yang mengikuti jalan ini akan memperolehi banyak manfaat dan barakah melalui pertemuan-pertemuan yang ikhlash dan yang benar.
  8. Siapa jua yang menziarahi kami tanpa memperolehi faedah yang mereka perlukan dibanding kami, sebenarnya, tiadalah mereka menziarahi kami. Mereka tidak akan merasa berpuas hati. Siapa yang mempunyai keinginan untuk berkata-kata dengan kami, kami tidak akan mendengar apa-apa. Dan siapa pula yang ingin mendengar daripada kami, kami tidak mempunyai apa-apa untuk diperdengarkan. Siapa yang menerima apa yang diberikan tanpa menganggapnya remeh, akan diberikan tambahan. Siapa pula yang tidak dapat menerima apa yang telah diberikan di sini, tidak akan berupaya menerima apa-apa pun, di mana-mana pun jua tempatnya.

    Ingatkah engkau kepada kisah seorang manusia yang meminta dirham (duit perak), tetapi dia telah diberikan dinar (duit emas), karena tidak ada dirham untuk diberikan kepadanya? Dia telah berkata, “Apalah gunanya benda ini? Aku tidak boleh membelanjakannya. Ini bukan dirham!”.
  9. Dari satu segi, setiap Insan Kamil itu adalah sama. Ini berarti yang apabila si murid sudah benar-benar sealiran dengan usaha tarekat ini, dia boleh berkomuniksai dengan para masayaikh terdahulu, sebagaimana mereka sendiri sering berkomuniksai sesama sendiri, menempuh jarak masa dan tempat.
  10. Tugas-tugas dan amalan-amalan sebuah tarekat membentuk satu unit. Kebenaran, cara mengajar dan para murid, membentuk rupa satu tangan, yang tidak dapat dilihat oleh si jahil. Karena dia hanya melihat ketidaksamaan jari-jari, dia tidak dapat melihat kepada pergerakan padu dari tangan itu (yakni pergerakan tangan sebagai satu entitas, sebenarnya terjadi dari pergerakan bersaingan tetapi berpadu dari jari-jari tangan itu).

Wanita



Sayyidina Ali K.W
  1. Sesungguhnya wanita (sanggup) menyembunyikan cinta selama empat puluh tahun, namun dia tidak (sanggup) menyembunyikan kebencian walaupun hanya sesaat.
  2. Sesungguhnya Allah menciptakan wanita dari kelemahan dan aurat. Maka, obatilah kelemahan mereka dengan diam, dan tutupilah aurat itu dengan menempatkannya di rumah.
  3. Sebaik-baik perangai wanita adalah seburuk-buruk perangai laki- laki, yaitu: angkuh, penakut, kikir. Jika wanita angkuh, dia tidak akan memberi kuasa kepada nafsunya. Jika wanita itu kikir, dia akan menjaga hartanya dan harta suaminya. Dan jika wanita itu penakut, dia akan takut dari segala sesuatu yang menimpanya.
  4. Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, karena mungkin saja kecantikannya akan membinasakannya. Dan jangan pula kalian menikahi wanita karena hartanya, karena mungkin saja hartanya akan menjadikannya bersikap sewenang-wenang. Akan tetapi, nikahilah wanita itu karena agamanya. Sungguh, seorang budak wanita hitam yang putus hidungnya, tetapi kuat agamanya, dia lebih utama.
  5. Aib yang terdapat pada seorang wanita akan terus ada selamanya. Aib ini juga akan menimpa anak-anaknya setelah menimpa ayah mereka.
  6. Kecemburuan seorang wanita adalah kekufuran, sedangkan kecem buruan seorang laki-laki adalah keimanan.
  7. Amma Ba’du. Wahai penduduk Irak, sesungguhnya kalian ini seper ti perempuan yang mengandung. Dia lama mengandung bayinya, ketika telah sempurna kandungannya, dia melahirkan bayinya dalam keadaan mati, lalu meninggal pula suaminya dan dia pun lama menjanda. Kemudian yang mewarisi dirinya adalah orang yang jauh (kekerabatannya) dengannya. 

Filosofi Lisan


PDF
Sayyidina Ali K.W
  1. Lisan orang mukmin bermula dari belakang hatinya, sedangkan hati orang munafik bemula dari belakang lisannya.
  2. Tidaklah lurus iman seorang hamba sehingga lurus hatinya, dan tidak akan lurus hatinya sehingga lurus lisannya.
  3. Demi Allah, tidaklah aku melihat seorang hamba bertaqwa dengan taqwa yang membawa manfaat baginya sehingga dia menyimpan lisannya.
  4. Sesungguhnya lisan ini senantiasa tidak mematuhi pemiliknya.
  5. Berbicaralah, niscaya kalian akan dikenal karena sesungguhnya sese orang tersembunyi di bawah lisannya.
  6. Ketenangan seseorang terdapat dalam pemeliharaannya terhadap lisannya.
  7. Lisanmu menuntutmu apa yang telah engkau biasakan padanya.
  8. Lisan laksana binatang buas, yang jika dilepaskan, niscaya ia akan menggigit.
  9. Jika lisan adalah alat untuk mengekspresikan apa yang muncul dalam pikiran, maka sudah seyogyanya engkau tidak menggunakan nya dalam hal yang tidak ada dalam pikiran itu.
  10. Perkataan tetap berada dalam belenggumu selama engkau belum mengucapkannya. Jika engkau telah mengucapkan perkataan itu, maka engkaulah yang terbelenggu olehnya. Oleh karena itu, simpanlah lisanmu, sebagaimana engkau menyimpan emasmu dan perakmu. Ada kalanya perkataan itu mengandung kenikmatan, te tapi ia membawa kepada bencana.
  11. Sedikit sekali lisan berlaku adil kepadamu, baik dalam hal menye barkan keburukan maupun kebaikan.
  12. Timbanglah perkataanmu dengan perbuatanmu, dan sedikitkanlah ia dalam berbicara kecuali dalam kebaikan.
  13. Sesungguhnya ada kalanya diam lebih kuat daripada jawaban.
  14. Jika akal telah mencapai kesempurnaan, maka akan berkuranglah pembicaraannya.
  15. Apa yang terlewat darimu karena diammu lebih mudah bagimu untuk mendapatkannya daripada yang terlewat  darimu karena per kataanmu.
  16. Sebaik-baik perkataan seseorang adalah apa yang perbuatannya membuktikannya.
  17. Jika ringkas (dalam perkataan) sudah mencukupi, maka memper banyak (perkataan) menunjukkan ketidakmampuan mengutarakan sesuatu. Dan jika ringkas itu dirasa kurang, maka memperbanyak (perkataan) wajib dilakukan.
  18. Barangsiapa yang banyak bicaranya, maka banyak pula kesalahan nya; barangsiapa yang banyak kesalahannya, maka sedikit malu nya; barangsiapa yang sedikit malunya, maka sedikit wara’nya‘ (kehati hatian dalam beragama); barangsiapa yang sedikit wara’nya, maka mati hatinya; dan barangsiapa yang mati hatinya, maka dia akan masuk neraka

Prinsip-Prinsip Adab Dalam Rangka Membangun Bangsa Beradab



1.    Menjaga kehormatan
  • Menjaga Kehormatan Allah.
  • Menjaga kehormatan Nabi dan Rasul.
  • Menjaga kehormatan para Auliya’ dan Ulama.
  • Menjaga kehormatan sesama menurut derajat masing-masing.
2.    Memiliki cita-cita yang luhur
  • Cita-cita luhur dalam kehidupan dunia dan akhirat, yaitu Allah swt. sebagai cita-cita paling luhur. Sehingga seluruh semangat dan hasrat kebangsaan diliputi nilai-nilai keluhuran moral Ilahiyah.

3.    Berbakti yang baik
  • Mengikuti jejak para Nabi dan Rasul
  • Tidak mengklaim prestasi, karena segala daya dan kekuatan dari pertolongan Allah
  • Terbangunnya kebesaran jiwa, karena menghargai Sang Pemberi anugerah dalam setiap gerak dan aktivitas.
4.     Melaksanakan prinsip-prinsip utama
  • Tidak mudah tergoda oleh aspek penunjang sedang prinsipnya terabaikan.
  • Tidak meremehkan hal-hal principal
  • Tidak memilih hal-hal gampang dengan melupakan gairah perjuangan dan kerja keras.
5.     Mensyukuri nikmat.
  • Memandang Yang Maha Memberi nikmat, bukan wujud nikmatnya.
  • Senantiasa memandang anugerahNya setiap berbuat kebaikan.
  • Rasa syukur ditumbuhkan dari kejernihan iman dan tauhid. 

Tabiat Manusia


Sayyidina Ali K.W

  1. Orang-orang lemah selalu menjadi lawan bagi orang-orang yang kuat, orang-orang bodoh bagi orang-orang bijak, dan orang-orang jahat bagi orang-orang baik. Inilah tabiat (manusia) yang tidak dapat diubah.
  2. Kebiasaan itu kuat.
    Maka, barangsiapa yang membiasakan sesuatu pada dirinya secara diam-diam dan dalam kesendiriannya, pasti akan menyingkapkannya secara terang-terangan dan terbuka.
  3. Kebiasaan adalah tabiat kedua yang menguasai.
  4. Kebiasaan yang buruk adalah persembunyian yang tidak aman.
  5. Dan Allah membagi-bagi makhluk-Nya menjadi bangsa-bangsa yang berbeda negeri dan kemampuan, tabiat dan bentuk (penam pilan). Dia menciptakan makhluk-makhluk dengan penciptaan yang sempurna dan menciptakannya sesuai dengan kehendak Nya.
Ajal Manusia
  1. Barangsiapa yang panjang umurnya, maka dia akan melihat pada diri musuh-musuhnya sesuatu yang menyenangkannya.
  2. Barangsiapa yang telah genap berusia empat puluh tahun, dikata kan kepadanya, “Waspadalah akan datangnya hal yang telah ditak dirkan (kematian) karena sesungguhnya engkau tidak dimaafkan.” Dan bukanlah orang yang berumur empat puluh tahun itu lebih berhak mendapatkan peringatan daripada orang yang berumur dua puluh tahun.
    Sebab, yang mengejar keduanya sama (satu), dan dia tidak pernah tidur dari yang dikejarnya itu, yaitu kematian. Karena itu, beramallah demi menghadapi situasi yang sangat me nakutkan di hadapanmu dan tinggalkanlah perkataan-perkataan yang indah-indah (yang menipu manusia).
  3. Barangsiapa yang telah berumur tujuh puluh tahun, dia akan ba nyak mengeluh tanpa adanya suatu penyakit.
  4. Cukuplah ajal sebagai penjaga.
     

Mencari Ilmu



  1. Ilmu adalah sebaik-baik perbendaharaan dan yang paling indahnya. Ia ringan dibawa, namun besar manfaatnya. Di tengah-tengah orang banyak ia indah, sedangkan dalam kesendirian ia menghibur.
  2. Pelajarilah ilmu karena sesungguhnya ia hiasan bagi orang kaya dan penolong bagi orang fakir. Aku tidaklah mengatakan, “Sesung guhnya ia mencari dengan ilmu,” tetapi “ilmu menyeru kepada qand 'ah (kepuasan).”
  3. Umur itu terlalu pendek untuk mempelajari segala hal yang baik untuk dipelajari. Akan tetapi, pelajarilah ilmu yang paling penting, kemudian yang penting, dan begitulah seterusnya secara berurutan.
  4. Janganlah engkau memperlakukan secara umum orang yang telah memberimu pengetahuan, tetapi perlakukanlah dia seperti orang- orang yang khusus. Dan ketahuilah bahwa Allah memiliki orang- orang yang dititipi-Nya rahasia-rahasia tersembunyi dan melarang mereka menyebarkan rahasia-rahasia-Nya itu. Ingatlah ucapan se orang laki-laki yang saleh (Khidhr) kepada Musa (a.s.), Musa a.s. sebelumnya berkata kepadanya:“Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu ?
    “Dia menjawab, “Sesungguhnya kamu sekali kali tidak akan sanggup sabar bersamaku. Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu ?” QS 18:66-68).
  5. Pelajarilah ilmu. Jika kalian tidak memperoleh keberuntungan de ngannya, maka dicelanya zaman bagi kalian lebih baik daripada ia dicela lantaran kalian.
  6. Ilmu adalah kekuatan. Barangsiapa yang mendapatkannya, dia akan menyerang dengannya; dan barangsiapa yang tidak mendapatkan nya, dialah yang akan diserang olehnya.
  7. Ilmu terbagi menjadi dua: yang didapatkan dengan mengikuti ( mathbu ) dan yang didapatkan dengan belajar ( masmu ), dan ilmu yang didapat dengan belajar tidak akan bermanfaat jika ia tidak dilaksanakan ( mathbu ).
  8. Kecintaan terhadap ilmu termasuk kemuliaan cita-cita.
  9. Seluruh wadah akan menyempit dengan apa yang diletakkan di dalamnya, kecuali wadah ilmu, karena sesungguhnya ia akan ber tambah luas.
  10. Akal tidak akan pernah membahayakan pemiliknya selamanya, se dangkan ilmu tanpa akal akan membahayakan pemiliknya.
  11. Jika jawaban berdesak-desakan, maka yang benar akan tersembunyi.
  12. Bagian terpenting ilmu adalah kelemahlembutan, sedangkan cacat nya adalah pernyimpangan.
  13. Jika engkau menghendaki ilmu dan kebaikan, maka kibaskanlah (hindarkanlah) dari tanganmu alat kebodohan dan kejahatan. Se bab, sesungguhnya tukang emas tidak akan memungkinkan bagi nya memulai pekerjaannya kecuali jika dia telah melemparkan alat pertanian dari tangannya.

Ilmu dan Pengamalannya



Sayyidina Ali K.W

  1. Ilmu berhubungan dengan amal. Barangsiapa yang berilmu, niscaya mengamalkan ilmunya. Ilmu memanggil amal; maka jika ia menyambut panggilannya bila tidak menyambutnya, ia akan berpindah darinya.
  2. Pelajarilah ilmu, niscaya kalian akan dikenal dengannya; dan amalkanlah ilmu (yang kalian pelajari) itu, niscaya kalian akan termasuk ahlinya.
  3. Wahai para pembawa ilmu, apakah kalian membawanya? Sesungguhnya ilmu hanyalah bagi yang mengetahuinya, kemudian dia mengamalkannya, dan perbuatannya sesuai dengan ilmunya. Akan datang suatu masa, dimana sekelompok orang membawa ilmu, namun ilmunya tidak melampaui tulang selangkanya. Batiniah mereka berlawanan dengan lahiriah mereka. Dan perbuatan mereka berlawanan dengan ilmu mereka.
  4. Orang yang beramal tanpa ilmu, seperti orang yang berjalan bukan di jalan. Maka, hal itu tidak menambah jaraknya dari jalan yang terang kecuali semakin jauh dari kebutuhannya. Dan orang yang beramal dengan ilmu, seperti orang yang berjalan di atas jalan yang terang. Maka, hendaklah seseorang memperhatikan, apakah dia berjalan, ataukah dia kembali?
  5. Janganlah sekali-kali engkau tidak mengamalkan apa yang telah engkau ketahui. Sebab, setiap orang yang melihat akan ditanya tentang perbuatannya, ucapannya, dan kehendaknya.
  6. Orang yang berilmu tanpa amal, seperti pemanah tanpa tali busur.
     

Serba Empat, Satu Yang Di Pilih Allah



Syeikh Abdul Qadir al-Jilany

Allah swt berfirman: “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang dikehendakiNya dan Dia Memilih.”
Allah memilih dari segala sesuatu yang ada, empat hal, lalu dipilihnya salah satu:
  1. Allah memilih empat Malaikat,  Jibril, Mikail, Israfil dan Izrail, lalu Allah memilih Jibril.
  2. Allah memilih empat dari para Nabi  -- sholawat salam bagi mereka -- ; Ibrahim, Musa, Isa dan Muhammad. Lalu Allah swt memilih Nabi Muhammad saw.
  3. Allah memilih empat dari para sahabat, Abu Bakr, Umar, Utsman, dan Ali -Rodlyallahu anhum -- Lalu Allah swt memilih Abu Bakr ash--Shjiddiq ra.
  4. Allah memilih empat dari masjid: Masjidil Haram, Masjidil Aqsha, Masjid Nabawi Madinah yang Musyarrafah dan Masjid Thursina. Lalu Allah swt memilih Masjidil Haram.
  5. Allah memilih empat dari hari-hari: Hari  Idul Ftri, hari Idul Adha, hari Arafah, dan hari Asyura’. Lalu Allah swt memilih hari ‘Arafah.
  6. Allah memilih empat  dari malam. Malam Al-Bara’ah, Malam Qadar, Malam Jum’at, dan Malam Ied. Lalu Allah swt memilih Lailatul Qadar.
  7. Allah memilih empat dari lembah: lembah Makkah, Lembah Madinah, Lembah Baitul Muqaddas dan sepuluh Masjid. Lalu Allah swt memilih lembah Makkah.
  8. Allah memilih empat bukit: Bukit Uhud, Bukit Thur Sina, bukit Lukam, dan bukit Libanon, Lalu Allah swt memilih bukit Thursina.
  9. Allah memilih empat Sungai: syngai Jeihon, Sungai Seihunj, Sungai Niil, dan Sungai Eofrat.Lalu Allah swt memilih Sungai Niil.
  10. Allah memilih empat dari bulan: Bulan Rajab, Sya’ban, Ramadlan dan Muharram, Lalu Allah swt memilih Sya’ban.

Kesucian dan Kemuliaan Ilmu



  1. Tiada kemuliaan seperti ilmu.
  2. Ilmu adalah pusaka yang mulia.
  3. Serendah-rendah ilmu adalah yang berhenti di lidah, dan yang paling tinggi adalah yang tampak di anggota-anggota badan.
  4. Tetaplah mengingat ilmu di tengah orang-orang yang tidak menyukainya, dan mengingat kemuliaan yang terdahulu di tengah orang-orang yang tidak memiliki kemuliaan, karena hal itu termasuk di antara yang menjadikan keduanya dengki terhadapmu.
  5. Jika Allah hendak merendahkan seorang hamba, maka Dia mengharamkan terhadapnya ilmu.
  6. Jika mayat seseorang telah diletakkan di dalam kuburnya, maka muncullah empat api. Lalu datanglah shalat (yang biasa dikerjakannya), maka ia memadamkan satu api. Lalu datanglah puasa, maka ia memadamkan api yang satunya lagi (api kedua). Lalu datanglah sedekah, maka ia memadamkan api yang satunya lagi. Lalu datanglah ilmu, maka ia memadamkan api yang keempat seraya berkata, “Seandainya aku menjumpai api-api itu, niscaya akan aku padamkan semuanya. Oleh karena itu, bergembiralah kamu. Aku senantiasa bersamamu, dan engkau tidak akan pernah melihat kesengsaraan.”
  7. Janganlah engkau membicarakan ilmu dengan orang-orang yang kurang akal karena mereka hanya akan mendustakanmu, dan tidak pula kepada orang-orang bodoh karena mereka hanya akan menyusahkanmu. Akan tetapi, bicarakanlah ilmu dengan orang yang menerimanya dengan penerimaan yang baik dan yang memahaminya.
  8. Cukuplah ilmu itu sebagai kemuliaan bahwasanya ia diaku-aku oleh orang yang bukan ahlinya dan senang  jika dia dinisbatkan kepadanya.

Ilmu dan Kebodohan



Insan visual we designer
Insan visual we designer
Sayyidina Ali K.W
  1. Orang yang bodoh adalah yang menganggap dirinya tahu tentang makrifat ilmu yang sebenarnya tidak diketahuinya, dan dia merasa cukup dengan pendapatnya saja.
  2. Orang yang alim mengetahui orang yang bodoh karena   dia dahulunya adalah orang yang bodoh, sedangkan orang yang bodoh tidak mengetahui orang yang alim karena dia tidak pernah menjadi orang alim.
  3. Orang bodoh adalah kecil meskipun dia orang tua, sedangkan orang alim besar meskipun dia masih remaja.
  4. Allah tidak memerintahkan kepada orang bodoh untuk belajar sebelum Dia memerintahkan terlebih dahulu kepada orang alim untuk mengajar.
  5. Segala sesuatu menjadi mudah bagi dua macam orang: orang alim yang mengetahui segala akibat dan orang bodoh yang tidak mengetahui apa yang sedang terjadi padanya.
  6. Ada dua orang yang membinasakanku: orang bodoh yang ahli  ibadah dan orang alim yang mengumbar nafsunya.
  7.  Imam `Ali a.s. menjawab pertanyaan seorang yang bertanya kepadanya tentang kesulitan, dia berkata, “Bertanyalah engkau untuk dapat memahami, dan janganlah engkau bertanya dengan keras kepala. Sebab, sesungguhnya orang bodoh yang terpelajar serupa dengan orang alim, dan orang alim yang sewenang-wenang serupa dengan orang bodoh yang keras kepala.”
  8. Engkau tidaklah aman dari kejahatan orang bodoh yang dekat denganmu dalam kekerabatan dan ketetanggaan. Sebab, yang paling dikhawatirkan terbakar nyala api adalah yang paling dekat dengan api itu.
  9. Alangkah buruknya orang yang berwajah tampan, namun dia bodoh. la seperti rumah yang bagus bangunannya, tetapi penghuninya orang yang jahat, atau seperti taman yang penghuninya adalah burung hantu, atau kebun kurma yang penjaganya adalah serigala.
  10. Janganlah engkau berselisih dengan orang bodoh, janganlah engkau mengikuti orang pandir, dan janganlah engkau memusuhi penguasa.
  11. Yang engkau lihat dari orang yang bodoh hanyalah dua hal: melampaui batas atau boros.
  12. Sebodoh-bodoh orang adalah orang yang tersandung batu dua ka1i.
  13. Menetapkan hujah terhadap orang bodoh adalah mudah, tetapi mengukuhkannya yang sulit.
  14. Tidak ada kebaikan dalam hal diam tentang suatu hukum, sebagaimana tidak ada kebaikan dalam hal berkata dengan kebodohan.
  15. Tidak ada penyakit yang lebih parah daripada kebodohan.
  16. Dan tidak ada kefakiran yang sebanding dengan kebodohan.  

Nasihat


KESEHATAN


  1. Tidak ada penyakit yang lebih menguruskan dari pada kurang akal.
  2. Tidak ada kesehatan bagi orang yang banyak makan.
  3. Ada kalanya obat merupakan penyakit.
  4. Meminum obat bagi tubuh seperti sabun bagi pakaian; ia membersihkannya, tetapi ia juga menjadikannya usang.
  5. Hindarilah dingin pada permulaannya dan ambillah ia di akhirnya. Sebab, sesungguhnya dingin itu mempengaruhi badan seperti pengaruhnya pada pepohonan. Permulaannya merontokkan, sedangkan akhirnya berdaun.
  6. Kesehatan adalah kerajaan yang tersembunyi
SEBUAH NASIHAT
  1. Perhatikanlah orang yang memberikan nasihat kepadamu. Seandainya dia memulai dari sisi yang merugikan orang banyak, maka janganlah engkau menerima nasihatnya dan berhati-hatilah darinya. Akan tetapi, jika dia memulainya dari sisi keadilan dan kebaikan (orang banyak), maka terimalah nasihatnya itu.
  2. Janganlah engkau meninggalkan pemberian nasihat kepada keluargamu karena sesungguhnya engkau bertanggung jawab atas mereka.
  3. Berikanlah nasihat yang tulus kepada saudaramu, baik itu dalam hal yang baik maupun buruk.
    4). Tidaklah memahami pembicaraanmu orang yang lebih senang berbicara kepadamu daripada mendengarkan pembicaraanmu. Tidaklah mengetahui nasihatmu orang yang hawa nafsunya mengalahkan pendapatmu. Dan tidaklah menerima argumentasimu orang yang berkeyakinan bahwa dia lebih sempurna daripadamu tentang pengetahuan yang engkau sampaikan kepadanya.
DORONGAN UNTUK SUNGGUH-SUNGGUH DALAM PEKERJAAN
  1. Janganlah engkau mencari cepatnya pekerjaan, tetapi carilah yang bagusnya. Sebab, orang-orang tidak akan bertanya tentang berapa lama seseorang menyelesaikan pekerjaannya, akan tetapi mereka hanya bertanya tentang kualitas produksinya.
  2. Cepat-cepatlah selagi ada kesempatan sebelum ia berubah menjadi kesedihan.
  3. Orang yang berdakwah tanpa amal, seperti pemanah tanpa tali busur.
  4. Bergerak merupakan perjuangan yang besar dalam hal meraih cita-cita.
  5. Kelambatan adalah penyia-nyiaan.
  6. Janganlah sekali-kali engkau bergantung pada lamunan karena hal itu merupakan komoditas orang dungu dan kebodohan tentang akhirat dan dunia.
  7. Berjalanlah dengan penyakitmu, niscaya ia tidak akan berjalan denganmu.
  8. Janganlah sekali-kali engkau malas. Sebab, barangsiapa yang malas, maka sesungguhnya dia tidak melaksanakan hak Allah.
  9. Janganlah sekali-kali engkau berjanji dengan suatu janji yang engkau sendiri ragu apakah dirimu dapat memenuhinya. Dan janganlah sampai memperdayakanmu bahwa tempat pendakian itu rata, jika turunnya tidak rata. Ketahuilah bahwa bagi setiap perbuatan ada balasannya, maka takutlah akan akibatnya; dan bahwa setiap perkara datangnya secara tiba-tiba, maka hendaklah engkau senantiasa dalam keadaan waspada.

Kedudukan Ulama

  1. Orang alim adalah lampu Allah di bumi. Maka, barangsiapa yang Allah menghendaki kebaikan baginya, dia akan memperoleh cahaya (ilmu) itu.
  2. Kedudukan orang alim bagaikan pohon kurma, engkau menunggu kapan buahnya jatuh kepadamu.
  3. Orang alim lebih utama dari pada orang yang berpuasa, mengerjakan shalat malam (tahajud), dan yang berjihad di jalan Allah. Jika seorang alim meninggal, maka terjadi lubang dalam islam yang tidak tertutupi sehingga datang orang alim lain yang datang kemudian (menggantikannya).
  4. Orang yang (keluar dari rumahnya) mencari ilmu, para malaikat akan mengantar kepergiannya sehingga dia pulang (ke rumahnya).
  5. Orang alim adalah yang mengetahui kemampuan dirinya, dan cukuplah seseorang dikatakan bodoh jika dia tidak mengetahui kemampuan dirinya.
  6. Ketahuilah! Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang memelihara ilmu-Nya, menjaga yang dijaga-Nya, dan memancarkan mata air ilmu-Nya, mereka ini saling berhubungan dengan wilayah (perwalian), saling bertemu dengan kecintaan, minum bersama dengan gelas pemikiran, dan pergi dengan meninggalkan bau yang harum. Mereka tidak dicampuri oleh keraguan, dan tidak pula mereka bersegera dalam mengumpat. Berdasarkan hal itulah, mereka mengukuhkan pembawaan dan akhlak mereka, saling mencintai, dan saling berhubungan di antara sesama mereka. Mereka ini seperti keunggulan benih yang telah dipilih, yang diambil darinya dan dilemparkan. la telah dipisahkan oleh penyaringan dan dibersihkan oleh pembersihan.
  7. Di antara hak seorang guru terhadap muridnya adalah hendaklah si murid tidak terlalu banyak bertanya kepadanya, tidak membebaninya dalam memberikan jawaban, tidak mendesaknya jika dia sedang malas, tidak menyebarkan rahasianya, dan tidak mengumpat seorang pun di sisinya.
  8. Orang yang alim adalah yang mengetahui bahwa apa yang diketahuinya, jika dibandingkan dengan apa yang tidak diketahuinya, sangatlah sedikit. Maka, karena itulah dia menganggap dirinya bodoh. Oleh karena itu, bertambahlah kesungguhannya dalam mencari ilmu karena pengetahuannya akan hal itu.
  9. Kesalahan yang dilakukan seorang alim seperti kapal yang pecah, maka ia tenggelam dan tenggelam pula bersamanya banyak orang.
  10. Jika seorang alim tertawa satu kali, maka dia telah membuang satu ilmu dari dirinya.

Budi Pekerti Yang Baik


. Budi pekerti yang mulia ada sepuluh: dermawan, malu, jujur, menyampaikan amanat, rendah hati (tawadhu), cemburu, berani, santun, sabar, dan syukur.
  1. Tiga macam orang yang tidak diketahui kecuali dalam tiga situasi: (pertama), tidak diketahui orang pemberani kecuali dalam situasi perang. (Kedua), tidak diketahui orang yang penyabar kecuali ketika sedang marah. (Ketiga), tidak diketahui sebagai teman kecuali ketika (temannya) sedang butuh.
  2. Janganlah sekali-kali engkau menjadi orang yang keburukannya lebih kuat daripada kebaikannya, kekikirannya lebih kuat daripada kedermawanannya, dan kekurangannya lebih kuat daripada kebajikannya.
  3. Pandanglah buruk pada dirimu apa yang engkau pandang buruk pada selainmu.
  4. Semulia-mulia nasab adalah akhlak yang baik.
  5. Tidak ada teman yang seperti akhlak yang baik, dan tidak ada harta warisan seperti adab.
  6. Hendaklah engkau ridha akan perlakuan orang-orang terhadapmu sama seperti engkau ridha atas perlakuanmu terhadap mereka.
  7. Adab adalah pusaka yang terbaik.
  8. Jika engkau menyukai akhlak yang mulia, maka hendaklah engkau menjauhi segala hal yang haram.
  9. Tidak adanya adab adalah sebab segala kejahatan.
  10. Perjalanan adalah ukuran akhlak.
  11. Kasihanilah orang-orang fakir yang sedikit kesabarannya, kasihanilah orang-orang kaya yang sedikit syukurnya, dan kasihanilah semua karena lamanya kelalaian mereka.
  12. Kemuliaan keturunan yang paling tinggi adalah akhlak yang baik.
  13. Ketakwaan adalah akhlak yang utama.
  14. Akhlak yang baik adalah sebaik-baik teman.
  15. Kalau segala sesuatu harus dipisah-pisahkan, maka dusta tetap bersama takut, kejujuran bersama keberanian, santai bersama keputusasaan, kelelahan bersama kerakusan, penolakan bersama ketamakan, dan kehinaan bersama utang.
  16. Hendaklah kalian menjaga adab. Sebab, jika kalian raja, pasti kalian akan melebihi raja-raja yang lain; jika kalian penengah, pasti kalian akan dapat mengatasi (yang lain); dan jika kehidupan kalian miskin, pasti kalian akan dapat hidup (terhormat) dengan adab kalian.
  17. Pilihlah untuk diri kalian, dari setiap kebiasaan, yang paling bagusnya, karena sesungguhnya kebaikan merupakan kebiasaan.
  18. Semulia-mulia raja adalah yang tidak dicampuri kesombongan dan tidak menyimpang dari kebenaran. Sekaya-kaya orang adalah yang tidak tertawan oleh ketamakan. Sebaik-baik kawan adalah yang tidak menyulitkan kawan-kawannya. Dan sebaik-baik akhlak yang paling dapat membantunya dalam ketakwaan dan ke-wara `-an (kehati-hatian dalam beragama).
  19. Seseorang tidak akan menjadi mulia sehingga dia tidak peduli dengan pakaian yang mana saja dia muncul (di tengah-tengah masyarakatnya).
  20. Adab adalah pakaian yang senantiasa baru. 

Zuhud

  1. Zuhud seluruhnya terdapat di antara dua kalimat dari ayat Alqur’an. Allah SWT berfirman: supaya kamu tidak berduka atas apa yang luput darimu, dan tidak terlalu gembira atas apa yang diberikan Nya kepadamu (QS 57:23) . Maka, barangsiapa yang tidak berduka atas apa yang telah lewat, dan tidak terlalu bergembira dengan yang didapat, dia telah mengambil zuhud dalam kedua sisinya (secara sempurna).
  2. Zuhud di dunia adalah pendek angan-angan, bersyukur ketika mendapatkan nikmat, dan menjauhi segala hal yang haram.
  3. Zuhud adalah perbuatan yang dapat mendekatkan diri kepada Allah.
  4. Tidak akan binasa orang yang hemat, dan tidak akan menjadi miskin orang yang zuhud.
  5. Seutama-utama zuhud adalah menyembunyikan zuhud.
  6. Zuhud adalah kekayaan.
  7. Orang yang zuhud terhadap dinar dan dirham adalah lebih mulia daripada dinar dan dirham.
  8. Zuhudlah di dunia, niscaya Allah akan memperlihatkan kepadamu aib-aib dunia itu, dan janganlah engkau lalai, maka sesungguhnya engkau bukanlah orang yang tidak mengerti akan dirimu sendiri.
  9. Beruntunglah orang-orang yang zuhud di dunia; yang merindukan kehidupan akhirat. Mereka adalah orang-orang yang telah menjadikan bumi sebagai hamparan, tanahnya sebagai tilamnya, airnya untuk bersuci, Alqur’an sebagai syiarnya, dan do’a sebagai bantalnya. Kemudian mereka meninggalkan dunia sama sekali sebagaimana yang ditempuh al-Masih (`Isa a.s.).
  10. Kekayaan yang paling mulia adalah meninggalkan banyak keinginan.
  11. Sesungguhnya orang-orang yang zuhud di dunia, hati mereka menangis walaupun mereka tertawa, kesedihan mereka bertambah wa laupun mereka berbahagia, dan mereka membenci diri mereka wa laupun mereka senang dengan rezeki yang dikaruniakan kepada mereka.
  12. Tidak ada kezuhudan (yang lebih utama) seperti kezuhudan terhadap segala hal yang haram.
  13.  Imam `Ali a.s. berkata dalam menyifati orang-orang yang zuhud, “Mereka adalah orang-orang yang tinggal di dunia, tetapi mereka bukan termasuk penghuninya; mereka hidup di dunia, tetapi mereka seperti yang bukan berasal dari dunia.”
  14. Jika engkau tidak membutuhkan sesuatu, maka tinggalkanlah ia dan ambillah yang engkau butuhkan saja
    .

Qana'ah (Kepuasan)



  1.  Imam 'Ali a.s. pernah ditanya tentang firman Allah Ta'ala: Maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (QS 16:97), Imam `Ali a.s. menjawab, “la adalah qana`ah (kepuasan).”
  2. Buah (hasil) dari qana'ah adalah kenyamanan.
  3. (Qana'ah adalah) menjaga apa yang ada di tanganmu lebih engkau cintai daripada meminta apa yang ada di tangan orang lain.
  4. Orang merdeka adalah budak selama dia tamak, sedangkan budak adalah orang yang merdeka selama dia qana'ah.
  5. Janganlah engkau malu memberi (bersedekah) walaupun itu sedikit, karena tidak memberi itu lebih sedikit.
  6. Kefakiran dan kekayaan keluar berkeliling, lalu keduanya bertemu dengan qana'ah, maka keduanya menetap (bersama).
  7. Jika kekayaan bertambah, maka berkuranglah selera.
  8. Tidak ada perbendaharaan yang lebih berharga daripada qana'ah
  9. Kekayaan yang paling besar adalah meninggalkan banyak keinginan.

Sabar


  1. Sabar adalah kunci kesenangan.
  2. Sabar adalah benteng dari kefakiran.
  3. Sabar adalah keberanian.
  4. Kesudahan sabar adalah positif dan menyenangkan.
  5. Sabar termasuk salah satu sebab kemenangan.
  6. Sabar adalah kendaraan yang tidak akan menjatuhkan pengendara¬nya.
  7. Menanggung kesombongan kehormatan lebih berat daripada menanggung kesombongan kekayaan, dan kehinaan kefakiran menghalangi seseorang dari kesabaran, sebagaimana kebanggaan kekayaan mencegah seseorang dari berbuat adil.
  8. Menanggung beban adalah kuburan aib.
  9. Sabar ada dua, yaitu: sabar terhadap apa yang engkau benci, dan sabar terhadap apa yang engkau sukai.
  10. Buanglah darimu segala kesusahan yang menimpamu dengan kesabaran yang teguh dan keyakinan yang baik.
  11. Sesungguhnya di antara perbendaharaan kebajikan adalah sabar terhadap segala musibah dan menyembunyikan musibah itu.
  12. Orang yang bersabar pasti akan meraih keberuntungan, meskipun itu diperoleh setelah waktu yang lama.
  13. Bagi setiap bencana pasti ada batas yang berakhir padanya, sedang¬kan obatnya adalah sabar terhadapnya.
  14. Kesabaran yang teguh akan memadamkan api nafsu.
  15. Seandainya kesabaran berbentuk seorang laki-laki, pasti dia adalah seorang laki-laki yang saleh.

Malu dan Kemuliaan


  1. Kemuliaan adalah dengan akal dan adab, bukan dengan asal-usul dan keturunan.
  2. Tidak ada kemuliaan bersama adab yang buruk.
  3. Kemuliaan adalah meyakini kematian bahwasanya ia berada di leher manusia.
  4. Kemuliaan berkaitan dengan kekecewaan, malu dengan tidak mendapatkan sesuatu, dan kesempatan berjalan seperti jalannya awan, maka cepat-cepatlah engkau ambil semua kesempatan yang baik.
  5. Tidak ada keimanan yang (nilainya lebih besar) seperti malu dan sabar.

Mengekang Nafsu


  1. Perangilah hawa nafsu kalian, sebagaimana kalian memerangi musuh-musuh kalian
  2. Sesuai dengan perjuangan jiwa seseorang dan penolakannya terhadap syahwatnya serta penolakannya untuk mengikuti kesenangannya (yang diharamkan), dan penolakan atas apa yang menjadikan mata berkeinginan memandangnya, maka di situlah terletak pahala dan siksaan.
  3. Orang yang bijak adalah yang dapat menguasai hawa nafsunya.
  4. Janganlah sekali-kali engkau menuruti nafsumu, dan jadikanlah yang membantumu untuk menghindar darinya adalah pengetahuanmu bahwasanya ia berupaya mengalihkan perhatian akalmu, mengacaukan pendapatmu, mencemarkan kehormatanmu, memalingkan kebanyakan urusanmu, dan memberatkanmu dengan akibat yang akan engkau tanggung di akhirat. Sesungguhnya nafsu adalah permainan. Maka, jika datang permainan, menghilanglah kesungguhan. Padahal, agama tidak akan pernah berdiri tegak dan dunia tidak akan menjadi baik kecuali dengan kesungguhan.
  5. Sesungguhnya saat engkau meninggalkan kebenaran, engkau pasti sedang menuju kepada kebatilan; dan saat engkau meninggalkan sesuatu yang benar, engkau meninggalkannya menuju kesalahan.
  6. Kepada Allahlah kami berharap agar Dia memperbaiki apa yang rusak dari hati kami, dan kepada-Nyalah kami memohon pertolongan untuk memberikan petunjuk pada jiwa kami. Sebab, hati berada di tangan-Nya, Dia mengaturnya sesuai yang Dia kehendaki.
  7. Orang yang baik adalah yang mampu mengatur nafsunya sesuai keinginannya dan menolaknya dari segala keburukan, sedangkan orang yang jahat adalah yang tidak seperti itu.
  8. Janganlah engkau menuruti nafsumu dan perempuan, dan kerjakanlah apa yang menurutmu baik.
  9. Cegahlah nafsu yang bertentangan dengan akalmu, yaitu dengan menentang keinginannya.

Kedermawanan dan Kekikiran



  1. Kedermawanan adalah perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan kebakhilan adalah pengasingan.
  2. Kedermawanan lebih baik daripada hubungan kekerabatan.
    Orang yang dermawan tidak dapat dilunakkan oleh kekerasan, dan tidak berlaku kasar jika kaya.
  3. Orang yang dermawan bersifat ramah jika diperlakukan dengan ramah, sedangkan orang yang kikir bertindak keras jika diperlakukan dengan ramah.
  4. Orang yang dermawan, berani hatinya.
  5. Orang yang paling nikmat kehidupannya adalah bila ada orang lain yang hidup bersamanya.
  6. Permintaan kepada orang yang dermawanan menggerakkannya untuk memberi, sedangkan permintaan kepada orang yang kikir mendorongnya untuk tidak memberi.
  7. Orang yang kikir tidak cocok bagi siapa pun, dan dia tidak akan lurus kecuali karena takut atau adanya kebutuhan. Maka, jika dia sudah tidak butuh lagi, atau hilang takutnya, dia akan kembali pada esensinya.
  8. Janganlah engkau memuji anak kecil jika dia dermawan karena sesungguhnya dia belum mengetahui keutamaan kedermawanan itu. Sesungguhnya dia memberi apa yang ada di tangannya karena kelemahannya.
  9. Janganlah engkau mencela seorang pun, dan janganlah pula engkau menolak seorang pun yang meminta. Sebab, ada kalanya dia orang dermawan, maka engkau memenuhi kebutuhannya; atau Seorang kikir, maka engkau membeli kehormatanmu darinya.
  10. Orang yang paling hina adalah yang meminta maaf kepada orang hina.
  11. Orang yang dermawan sama sekali tidak pernah menyelidiki Secara mendalam. Allah Ta’ala berfirman dalam menyifati Nabi-Nya: Dan Allah memberitahukan hal itu kepada Muhammad, lalu Muhammad memberitahukan sebagian dan menyembunyikan sebagian yang lain (QS 66:3).
  12. Jika engkau meminta suatu kebutuhan kepada orang yang dermawan, maka biarkanlah dia berpikir karena dia hanya berpikir dalam kebaikan. Akan tetapi, jika engkau meminta suatu kebutuhan kepada orang yang kikir, maka mintalah secara mendadak karena jika dia sempat berpikir, niscaya dia akan kembali pada wataknya (kikir).
  13. Jika orang yang mulia marah, maka berbicaralah kepadanya secara halus. Akan tetapi, jika orang tercela yang marah, maka ambillah tongkat (untuk memukulnya).
  14. Orang yang mulia dapat ridha dengan perkataan, orang yang tercela dapat dibujuk dengan harta, dan orang rendahan dapat diajak berdamai dengan hal yang hina.
  15. Kedermawanan dan kemurahan hati adalah dengan makanan, bukan uang. Dan barangsiapa yang memberi uang seribu dan kikir dengan sepiring makanan, maka dia bukanlah seorang yang dermawan.
  16. Hati-hatilah terhadap terkaman orang yang dermawan jika dia sudah lapar, dan orang yang kikir jika dia sudah kenyang.
  17. Kekikiran penghimpun segala keburukan dan aib, dan ia adalah kendali yang menuntun kepada setiap kejelekan.
  18. Kekikiran lebih berbahaya terhadap manusia daripada kefakiran. Sebab,jika orang fakir mendapatkan harta, dia menjadi kaya; Sedangkan orang yang kikir tidak akan merasa kaya walaupun dia mendapatkan harta yang banyak.
  19. Janganlah sekali-kali engkau berkawan dengan orang kikir karena dia akan menghindar darimu justru pada saat engkau sangat membutuhkannya.
  20. Orang yang kikir berderma dengan kehormatannya sebanding dia kikir dengan hartanya, sedangkan orang yang dermawan kikir dengan kehormatannya (menjaganya baik-baik) sebanding dia berderma dengan hartanya.
  21. Kemarahan orang yang kikir terhadap orang yang dermawan lebih mengherankan daripada kekikirannya.
  22. Sungguh, aku sangat heran terhadap orang yang kikir. Dia menyegerakan kefakiran yang dia lari darinya, dan luput darinya kekayaan yang dicarinya dengan keras (sungguh-sungguh). Dia hidup di dunia seperti layaknya kehidupan orang-orang fakir, padahal dia akan dihisab di akhirat dengan perhitungan orang-orang kaya.
  23. Orang yang kikir, berani muka.
  24. Janganlah sekali-kali kalian menjadi orang yangkikir. Sebab, kekikiran telah membinasakan orang-orang sebelum kalian. Kekikiran inilah yang menumpahkan darah orang banyak (sebab terjadinya pembunuhan), dan ia pula yang memutuskan tali kekeluargaan. Oleh karena itu, jauhilah kekikiran.

Menjaga Rahasia dan Menyampaikan Amanat



  1. Di antara penyampaian amanat adalah membalas kebaikan karena ia seperti titipan padamu
  2. Menyampaikan amanat adalah kunci rezeki. Tidak semua rahasia boleh engkau buka (kepada orang lain), dan tidak semua yang engkau ketahui boleh engkau beritahukan kepada orang lain.
  3. Janganlah engkau mengkhianati orang yang mengamanatkan kepadamu, meskipun dia telah mengkhianatimu.
  4. Rahasiamu adalah darahmu (nyawamu), maka janganlah engkau mengalirkannya (mempercayakannya) kecuali pada urat lehermu (orang terdekatmu).
  5. Percayakanlah rahasiamu hanya kepada satu orang saja, sedangkan musyawarahmu kepada seribu orang (orang banyak).
  6. Saudara yang tepercaya adalah yang dapat menampung (menjaga) rahasia.
  7. Hak setiap rahasia adalah untuk djaga, dan rahasia yang paling berhak mendapatkan penjagaan adalah rahasiamu bersama Tuhanmu dan rahasia-Nya bersamamu. Ketahuilah, barangsiapa yang mencemarkan orang lain, niscaya dia akan dicemarkan; dan barangsiapa yang membocorkan rahasia, maka dia telah membolehkan darahnya sendiri untuk ditumpahkan (dibunuh).
  8. Obat segala penyakit adalah menyembunyikan penyakit itu.
  9. Setiap kali bertambah banyak tempat penyimpan rahasia, akan bertambah banyak pula hilangnya (terbongkar rahasianya).
  10. Prasangka-prasangka selalu mendesak-desak sesuatu yang dirahasiakan, tak tahan untuk segera membongkarnya.
  11. Boleh saja engkau memiliki banyak sahabat, tetapi hendaklah engkau mempercayakan rahasiamu kepada seorang saja diantara mereka.
  12. Janganlah engkau meletakkan rahasiamu kepada orang yang menurutmu tidak dapat dipercaya untuk menyimpan rahasia.
  13. Janganlah engkau menyebarkan rahasia orang yang telah menyebarkan rahasiamu.
  14. Barangsiapa yang menyembunyikan rahasianya, maka pilihan ada di tangannya.